Negosiasi Iran Dan AS tetap menjadi pilihan yang ingin ditempuh Presiden Iran Masoud Pezeshkian untuk meredakan konflik meskipun ketegangan militer antara kedua negara kembali meningkat. Pezeshkian menilai penyelesaian melalui diplomasi jauh lebih bermanfaat daripada memperpanjang peperangan yang dapat memberikan dampak besar terhadap Iran, Amerika Serikat, kawasan Timur Tengah, hingga perekonomian global.
Pezeshkian menyampaikan sikap tersebut ketika bertemu Perdana Menteri India Narendra Modi di sela agenda pertemuan keamanan regional di Kirgistan. Pertemuan itu berlangsung ketika hubungan Washington dan Teheran kembali memasuki periode penuh ketidakpastian setelah kedua pihak terlibat aksi militer terbaru.
Ketegangan tersebut bahkan ikut memengaruhi pasar energi. Harga minyak dunia melonjak lebih dari 3,5 persen setelah muncul laporan mengenai kontak senjata terbaru antara Iran dan AS. Situasi ini menunjukkan bahwa perkembangan konflik tidak hanya berdampak terhadap keamanan kawasan, tetapi juga dapat memengaruhi perdagangan dan pasokan energi internasional.
Pezeshkian Dorong Penyelesaian Konflik Melalui Dialog
Pezeshkian mengakui bahwa pemerintahnya memiliki kekecewaan terhadap Amerika Serikat. Ia menilai Washington tidak menjalankan sejumlah komitmen dalam kesepakatan sebelumnya. Namun, kondisi tersebut tidak membuat Teheran menutup pintu diplomasi.
Presiden Iran itu menegaskan bahwa pemerintahnya masih berusaha menemukan kesepahaman yang dapat menghentikan ketegangan. Menurutnya, perang berkepanjangan tidak akan memberikan keuntungan bagi pihak mana pun.
Pezeshkian juga memandang dialog dan kerja sama sebagai instrumen penting untuk mencari solusi atas persoalan yang terjadi. Karena itu, ia mendorong semua pihak memanfaatkan berbagai jalur yang tersedia untuk mencegah konflik berkembang menjadi krisis keamanan yang lebih luas.
Sikap tersebut menunjukkan bahwa negosiasi Iran dan AS masih memiliki ruang meskipun perkembangan di lapangan bergerak ke arah yang semakin kompleks. Diplomasi menghadapi tantangan besar karena kedua negara pada saat bersamaan terus mempertahankan tekanan terhadap satu sama lain.
Serangan AS ke Pulau Larak Memicu Balasan Iran
Eskalasi terbaru muncul setelah pasukan Amerika Serikat menyerang dua peluncur rudal milik Iran di Pulau Larak. Pulau tersebut berada sekitar 660 kilometer di sebelah timur Pulau Kharg, salah satu kawasan strategis bagi sektor energi Iran.
Otoritas setempat melaporkan serangan itu menewaskan dua orang serta menyebabkan sejumlah orang lainnya terluka. Insiden tersebut kemudian memicu respons militer dari Iran.
Media Iran memberitakan bahwa pasukan Teheran menyerang dua pangkalan militer Amerika Serikat di Yordania. Aksi saling serang tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap kemungkinan meluasnya konflik ke negara-negara lain di kawasan.
Situasi itu sekaligus memperumit proses diplomasi. Pemerintah Iran tetap menyuarakan pentingnya dialog, tetapi perkembangan militer menunjukkan bahwa ketegangan antara kedua negara belum mereda.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian saat berpidato di hadapan parlemen Teheran, 2 Maret 2025. Di sela Sidang Umum PBB, Jumat (26/9/2025), Pezeshkian menyatakan dukungan penuh untuk gencatan senjata di Gaza, sejalan dengan optimisme Donald Trump soal akhir perang Israel-Palestina.
Video AI Pulau Kharg Picu Kontroversi
Di tengah ketegangan tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memicu perhatian setelah mengunggah sebuah video di Truth Social. Video itu menggambarkan seolah-olah fasilitas minyak Iran di Pulau Kharg mengalami kehancuran besar akibat serangan.
Trump menyertai video tersebut dengan klaim bahwa Pulau Kharg telah hancur. Namun, pemeriksaan Reuters menggunakan perangkat lunak pendeteksi konten berbasis kecerdasan buatan menunjukkan bahwa rekaman dramatis itu merupakan hasil rekayasa AI.
Seorang pejabat Amerika Serikat juga menyatakan bahwa pasukan negaranya tidak menyerang Pulau Kharg dalam operasi militer pada malam tersebut.
Hingga saat itu, Gedung Putih dan Kementerian Pertahanan Amerika Serikat belum menyampaikan penjelasan resmi mengenai kontroversi video tersebut.
Iran Pastikan Operasional Minyak Kharg Tetap Normal
Pemerintah Iran menanggapi unggahan tersebut dengan menegaskan bahwa kondisi Pulau Kharg tetap terkendali. Direktur Utama National Iranian Oil Co, Hamid Bovard, menyebut situasi di kawasan itu tenang dan aktivitas industri minyak masih berjalan.
Menurut Bovard, pekerja tetap menjalankan kegiatan produksi sekaligus melanjutkan modernisasi fasilitas. Mereka juga masih memperbaiki sejumlah kerusakan yang muncul akibat serangan sebelumnya.
Keberadaan Pulau Kharg memiliki arti strategis bagi perekonomian Iran. Sebelum perang pecah setelah serangan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari, kawasan tersebut menangani sekitar 90 persen ekspor minyak Iran.
Karena perannya yang sangat besar, gangguan terhadap fasilitas Kharg berpotensi menimbulkan konsekuensi serius. Selain mengurangi kemampuan Iran mengekspor minyak, kerusakan besar di kawasan itu dapat mengganggu perdagangan energi dunia dan mendorong volatilitas harga minyak internasional.
Diplomasi Iran-AS Masih Menghadapi Jalan Terjal
Walaupun Pezeshkian terus mendorong penyelesaian damai, negosiasi Iran dan AS masih menghadapi sejumlah hambatan. Salah satunya berasal dari kebijakan pemerintahan Trump yang terus meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran.
Washington memperketat sanksi terhadap Iran sekaligus menyasar sejumlah mitra bisnis yang berhubungan dengan negara tersebut. Kebijakan itu semakin memperbesar tekanan terhadap perekonomian Iran dan membuat upaya membangun kembali kepercayaan menjadi lebih sulit.
Di sisi lain, aksi militer terbaru menunjukkan besarnya risiko salah perhitungan di tengah ketegangan. Serangan yang berlanjut dapat mempersempit ruang diplomasi dan meningkatkan kemungkinan konflik menjalar ke wilayah lain.
Pernyataan Pezeshkian memberikan sinyal bahwa Teheran belum sepenuhnya meninggalkan jalur perundingan. Pemerintah Iran masih melihat dialog sebagai salah satu pilihan untuk menghentikan eskalasi dan menciptakan kesepakatan baru dengan Washington.
Namun, peluang tersebut sangat bergantung pada kemampuan kedua pihak menurunkan ketegangan serta menemukan titik temu. Selama serangan militer, sanksi ekonomi, dan tekanan politik terus berlangsung, proses menuju kesepakatan Iran dan Amerika Serikat kemungkinan tetap menghadapi perjalanan yang panjang.