Situ Rawa Kalong – pernah menjadi simbol harapan baru pengelolaan ruang publik dan lingkungan di Kota Depok. Pemerintah merancang revitalisasi kawasan ini untuk menjawab persoalan banjir sekaligus menyediakan ruang aktivitas warga. Dengan dukungan anggaran yang besar, kawasan situ diarahkan menjadi area resapan air, sarana olahraga, dan ruang interaksi sosial yang ramah lingkungan.
Seiring berjalannya waktu, realitas di lapangan menunjukkan tantangan yang tidak ringan. Kondisi kawasan Situ Rawa Kalong belum sepenuhnya mencerminkan tujuan awal pembangunan. Kawasan ini kini berada di antara cita-cita besar revitalisasi dan keterbatasan pengelolaan jangka panjang yang masih terus berlangsung.
Kondisi Lingkungan Situ Rawa Kalong Saat Ini
Situ Rawa Kalong terletak di wilayah Curug, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok, dengan luas sekitar 8,25 hektare. Secara visual, permukaan air terlihat relatif tenang. Namun, kondisi di sekeliling kawasan memperlihatkan sejumlah persoalan lingkungan. Sampah masih terlihat di beberapa titik, terutama di sepanjang jalur jogging. Sejumlah fasilitas umum menunjukkan tanda kerusakan, sementara toilet yang tersedia tidak dapat digunakan oleh pengunjung.
Masalah lingkungan tidak hanya muncul di daratan. Kualitas air situ juga memerlukan perhatian serius. Penilaian visual tidak selalu menggambarkan kondisi air secara menyeluruh. Aktivitas pembersihan sampah sering memperlihatkan buih dan residu tertentu yang berpotensi menimbulkan iritasi kulit. Kondisi ini menunjukkan pentingnya pemantauan kualitas air secara rutin dengan pendekatan ilmiah.

Situ Rawa Kalong (Rio Ferdinand Muhammad Eka Putra
Fungsi Resapan Air dan Tantangan Pengelolaan
Situ Rawa Kalong masih menjalankan perannya sebagai kawasan resapan air dan pengendali banjir. Keberadaan situ sangat penting di tengah berkurangnya ruang terbuka hijau akibat pembangunan perkotaan yang masif. Namun, fungsi ekologis tersebut menghadapi berbagai keterbatasan.
Keterbatasan perawatan dan pengawasan menjadi kendala utama. Pengelola kawasan menghadapi tantangan besar dalam menjaga kebersihan dan kualitas lingkungan tanpa dukungan sistem manajemen yang memadai. Sampah yang kembali memenuhi badan air menunjukkan bahwa pengelolaan lingkungan membutuhkan pendekatan yang lebih berkelanjutan.
Fasilitas Publik dan Permasalahan Perawatan
Revitalisasi menghadirkan berbagai fasilitas penunjang, seperti lintasan jogging, toilet umum, jembatan apung, dan ruang terbuka untuk aktivitas warga. Pada tahap awal, fasilitas tersebut berhasil meningkatkan minat masyarakat untuk berkunjung dan beraktivitas di kawasan situ.
Namun, keterbatasan anggaran operasional menghambat perawatan fasilitas tersebut. Beberapa sarana tidak lagi berfungsi optimal akibat minimnya pemeliharaan. Jembatan apung, yang sempat menjadi ikon kawasan, kini tidak dapat digunakan karena kerusakan teknis dan pertimbangan keselamatan. Akses kendaraan perawatan yang terbatas juga menyulitkan pengelola dalam menjalankan pekerjaan rutin.
Keselamatan Pengunjung sebagai Prioritas
Pengelola menutup jembatan apung demi menjaga keselamatan pengunjung. Kerusakan pada sistem pengaman dan perubahan posisi jembatan meningkatkan risiko kecelakaan. Insiden yang melibatkan anak-anak memperkuat keputusan untuk menghentikan sementara aktivitas di fasilitas tersebut.
Kedalaman rata-rata situ yang mencapai lebih dari satu meter menambah potensi bahaya bagi pengunjung. Oleh karena itu, pengelola memprioritaskan langkah pencegahan untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan.
Keterbatasan Tenaga Pengelola
Pengelolaan harian Situ Rawa Kalong menghadapi tantangan besar dari sisi sumber daya manusia. Satu orang petugas menjalankan hampir seluruh aktivitas operasional dan pemeliharaan kawasan. Tugas tersebut mencakup pembersihan jalur jogging, pengangkatan sampah dari air, pemangkasan vegetasi, pengawasan pintu air, hingga pencatatan kondisi lingkungan.
Beban kerja yang tinggi dengan dukungan terbatas berpotensi menurunkan efektivitas pengelolaan. Meski demikian, kepedulian warga sekitar membantu meringankan tugas melalui kegiatan kerja bakti yang dilakukan secara sukarela.
Partisipasi Masyarakat dan Dampak Sosial
Revitalisasi Situ Rawa Kalong membawa perubahan sosial yang cukup terasa. Kawasan yang sebelumnya kurang terawat kini menjadi lebih hidup. Warga memanfaatkan area tersebut untuk berolahraga dan bersosialisasi. Aktivitas ini turut mendorong tumbuhnya usaha kecil dan kegiatan ekonomi informal di sekitar situ.
Namun, ketidaktuntasan pembangunan dan kerusakan fasilitas memunculkan kekecewaan di kalangan masyarakat. Jalur jogging yang belum tersambung sepenuhnya serta fasilitas penerangan yang tidak berfungsi menjadi catatan penting bagi keberlanjutan kawasan.
Refleksi atas Revitalisasi Infrastruktur Publik
Situ Rawa Kalong mencerminkan tantangan dalam pembangunan infrastruktur publik perkotaan. Investasi besar tidak otomatis menjamin keberlanjutan manfaat tanpa perawatan rutin, koordinasi lintas lembaga, dan keterlibatan masyarakat secara aktif.
Ke depan, pengelola perlu menerapkan pendekatan terpadu yang mencakup aspek lingkungan, sosial, dan kelembagaan. Tanpa langkah perbaikan yang terencana, kawasan ini berisiko kehilangan fungsi dan nilai yang sejak awal ingin di wujudkan melalui revitalisasi.