Warung Bu Ageng Jakarta kini menjadi pilihan baru bagi pencinta masakan khas Yogyakarta yang ingin menikmati cita rasa rumahan tanpa harus pergi ke Kota Gudeg. Rumah makan yang sebelumnya beroperasi di Jalan Tirtodipuran, Yogyakarta, tersebut membuka cabang pertamanya di ibu kota dengan membawa menu sekaligus atmosfer khas Jogja.
Warung ini menempati lokasi di Jalan Letjen Suprapto, Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Lokasinya juga cukup dekat dengan Halte Transjakarta Pasar Cempaka Putih sehingga pengunjung dapat menjangkaunya dengan transportasi umum.
Tak hanya mengandalkan makanan, keluarga pemilik Warung Bu Ageng berusaha membawa karakter rumah makan mereka di Yogyakarta ke Jakarta. Mereka menggunakan konsep rumah Jawa dengan gebyok, furnitur kayu, serta berbagai lukisan tokoh untuk membangun suasana tersebut.
Namun, keluarga pemilik tetap melakukan beberapa penyesuaian untuk menghadapi kondisi Jakarta. Salah satunya dengan memasang pendingin ruangan pada salah satu bilik agar pengunjung tetap nyaman ketika cuaca terasa panas.
Eyem Pengeng Jadi Salah Satu Menu Andalan
Warung Bu Ageng Jakarta menawarkan beragam masakan yang berangkat dari tradisi kuliner rumahan. Salah satu hidangan yang menarik perhatian yaitu eyem pengeng.
Menu tersebut menggunakan ayam kampung sebagai bahan utama. Dapur mengolah ayam dengan bumbu tradisional dan santan kelapa. Kuah areh yang kental kemudian memberikan cita rasa gurih sekaligus manis yang kuat.
Nama eyem pengeng sendiri memiliki cerita menarik. Butet Kartaredjasa menjelaskan bahwa nama tersebut berkaitan dengan seorang penjual ayam panggang keliling yang menawarkan dagangannya menggunakan suara sengau.
Budayawan Umar Kayam kemudian turut memopulerkan istilah tersebut melalui tulisannya di kolom Kedaulatan Rakyat. Karena itu, eyem pengeng tidak hanya menawarkan cita rasa, tetapi juga membawa cerita yang berkaitan dengan perjalanan kuliner Jawa.
Selain eyem pengeng, pengunjung dapat mencoba nasi campur dengan berbagai pilihan lauk. Satu porsinya memadukan nasi dengan abon ikan tuna, keripik kentang, areh, sambal kutai, serta kerupuk legendar.
Warung ini menyediakan pilihan lauk seperti ayam bakar suwiran, paru ketumbar, lele njingkrung, lidah masak semur, baceman kambing, dan terik daging sapi.
Paru ketumbar menjadi salah satu pilihan yang menonjol. Teksturnya empuk, sementara bumbu ketumbar memberikan karakter rasa yang cukup kuat. Perpaduan lauk tersebut dengan nasi, areh, dan sambal membuat satu porsi terasa lengkap.
Sesuaikan Tingkat Manis dengan Selera Warga Jakarta
Pengunjung juga dapat menemukan terong barendam yang memiliki tekstur lembut dengan perpaduan rasa gurih dan manis. Telur dadar dapat menjadi pendamping sederhana untuk melengkapi nasi dan lauk lainnya.
Secara umum, Warung Bu Ageng mempertahankan karakter manis yang identik dengan sebagian masakan Jawa. Namun, pengelola sedikit mengurangi kadar manis pada makanan di cabang Jakarta.
Penyesuaian tersebut bertujuan mengikuti karakter selera konsumen ibu kota tanpa menghilangkan identitas asli masakan. Dengan demikian, pelanggan tetap dapat menemukan karakter Jogja pada setiap hidangan, tetapi dengan tingkat rasa yang lebih sesuai untuk pasar Jakarta.
Warung Bu Ageng Jakarta juga menghadirkan beberapa menu khusus yang menyesuaikan bahan dan kebiasaan makan warga ibu kota. Beberapa di antaranya mencakup ikan patin asal Kalimantan, terong barendam, serta ikan asin dengan petai.
Sementara itu, cabang Yogyakarta memiliki lebih banyak pilihan lauk asap. Pengunjung di sana dapat menemukan kambing, sapi, ayam, hingga lele asap. Dapur juga dapat mengolah lele asap tersebut menjadi mangut.

Rulyani Isfihana “Bu Ageng”, pemilik Warung Bu Ageng di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Minggu (9/8/2026).
Teh Teko dan Es Setup Jambu Lengkapi Hidangan
Selain makanan, Warung Bu Ageng menawarkan minuman yang tetap membawa karakter kuliner Jawa. Salah satunya teh teko.
Warung menyajikan minuman tersebut menggunakan teko dengan campuran beberapa jenis teh Jawa. Dapur menyeduh teh menggunakan air mendidih, kemudian menyajikannya bersama gula batu.
Teh tersebut menawarkan karakter nasgitel, istilah yang merujuk pada panas, legi, dan kenthel. Rasa teh yang pekat, hangat, dan manis cocok menjadi penutup setelah menikmati makanan berbumbu kuat.
Bagi pengunjung yang menginginkan minuman dingin, es setup jambu dapat menjadi alternatif. Kesegarannya memberikan karakter berbeda setelah menyantap berbagai masakan rumahan khas Jawa.
Pilihan makanan dan minuman tersebut menunjukkan konsep yang ingin Warung Bu Ageng pertahankan: sederhana dan terasa dekat dengan masakan keluarga, tetapi tetap memiliki cerita di balik menunya.
Berawal dari Masakan Rumahan di Yogyakarta
Perjalanan Warung Bu Ageng bermula di Yogyakarta pada 2011. Setelah menjalankan usaha selama sekitar 15 tahun, keluarga Rulyani Isfihana atau Bu Ageng bersama Butet Kartaredjasa memutuskan memperluas usahanya ke luar Yogyakarta.
Mereka kemudian memilih Jakarta sebagai kota pertama untuk ekspansi. Salah satu pertimbangannya datang dari banyaknya masyarakat Jakarta yang merindukan makanan khas Jogja.
Ide awal mendirikan Warung Bu Ageng sendiri berangkat dari kehidupan keluarga. Resep yang menjadi dasar berbagai menu berasal dari masakan rumahan Bu Ageng.
Sejumlah teman yang sering berkunjung ke rumah mereka di Yogyakarta kemudian mendorong keluarga tersebut untuk mengembangkan masakan itu menjadi usaha. Dukungan tersebut akhirnya melahirkan Warung Bu Ageng.
Butet juga memiliki alasan pribadi ketika membangun usaha tersebut. Ia ingin memberikan kemandirian ekonomi kepada istrinya melalui aset dan usaha keluarga. Pemikiran itu mendorongnya membeli tanah dan membangun warung sebagai bagian dari persiapan masa depan keluarga.
Setelah bertahan sekitar 15 tahun di Yogyakarta, masakan rumahan tersebut kini menjangkau pelanggan di Jakarta.
Pertahankan Nuansa Jogja Tanpa Mengandalkan Hiburan
Konsep interior menjadi unsur penting dalam identitas Warung Bu Ageng Jakarta. Pengelola mempertahankan bentuk rumah kampung dengan gebyok serta menambahkan sejumlah lukisan dan ornamen yang memiliki cerita.
Namun, pemilihan tokoh dalam lukisan menyesuaikan lokasi masing-masing cabang. Warung di Yogyakarta menampilkan sosok-sosok yang tumbuh dari Jogja kemudian mendapat pengakuan secara nasional.
Sementara itu, cabang Jakarta memilih tokoh yang memiliki keterkaitan dengan ibu kota dan kemudian berkembang menjadi figur nasional. Pendekatan tersebut membuat masing-masing cabang memiliki identitas lokal tanpa kehilangan konsep utama Warung Bu Ageng.
Menariknya, Butet memilih tidak menghadirkan pertunjukan musik Jawa secara langsung untuk memperkuat atmosfer restoran. Ia ingin pengunjung datang karena kualitas dan karakter makanan, bukan karena hiburan musik.
Warung Bu Ageng Jakarta menjalani soft opening sejak 5 Agustus 2026 sebelum kemudian resmi beroperasi. Rumah makan ini melayani pelanggan setiap hari mulai pukul 10.00 hingga 23.00 WIB.
Kehadiran cabang Jakarta memperluas perjalanan Warung Bu Ageng setelah sekitar 15 tahun berkembang di Yogyakarta. Dengan membawa masakan rumahan, cerita di balik menu, dan suasana rumah Jawa, warung ini menawarkan alternatif bagi masyarakat ibu kota yang ingin menikmati nuansa kuliner Jogja tanpa harus bepergian ke Yogyakarta.