Kota Binjai – dikenal luas sebagai kota penyangga Medan. Namun demikian, kota ini juga menyimpan kekayaan sejarah yang kuat melalui keberadaan bangunan cagar budaya. Oleh karena itu, warisan arsitektur yang masih berdiri hingga sekarang menunjukkan identitas sosial, budaya, dan keagamaan masyarakat Binjai sejak abad ke-19. Selain itu, bangunan-bangunan tersebut tetap menjalankan fungsi aktif sehingga masyarakat dan wisatawan dapat merasakan nilai sejarah secara langsung.

Lebih lanjut, keberadaan cagar budaya ini mendukung pengembangan wisata sejarah dan edukasi. Dengan demikian, Kota Binjai tidak hanya menawarkan peran strategis secara geografis, tetapi juga memberikan pengalaman budaya yang bernilai tinggi. Berikut ini empat bangunan bersejarah yang mencerminkan perjalanan panjang Kota Binjai.

Masjid Raya Kota Binjai sebagai bangunan cagar budaya bersejarah dengan arsitektur Melayu, Tionghoa, dan Eropa

Foto: Kuil Shri Marriamman Binjai (Dok. Website Dinas Pariwisata Kota Binjai)
Baca artikel detiksumut, “4 Bangunan Cagar Budaya Bersejarah yang Wajib Dikunjungi di Binjai” selengkapnya https://www.detik.com/sumut/budaya/d-8298567/4-bangunan-cagar-budaya-bersejarah-yang-wajib-dikunjungi-di-binjai.
Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/

Masjid Raya Kota Binjai sebagai Simbol Peradaban Melayu

Masjid Raya Kota Binjai berdiri sebagai salah satu masjid tertua di Sumatera Utara. Tengku Haji Musa al-Khalid Al-Mahadiah Muazzam Shah atau Tengku Ngah menggagas pendirian masjid ini pada tahun 1887. Ia memimpin Kesultanan Langkat pada periode 1840–1893 dan menginisiasi pembangunan masjid di atas lahan wakaf seluas sekitar 1.000 meter persegi.

Masjid ini mampu menampung kurang lebih 1.500 jamaah. Selain itu, bangunan ini menampilkan perpaduan arsitektur Melayu, Tionghoa, dan Eropa. Perpaduan tersebut mencerminkan dinamika budaya pada masa Kesultanan Melayu yang berinteraksi dengan pengaruh kolonial. Hingga kini, Masjid Raya Kota Binjai tetap berfungsi sebagai pusat ibadah sekaligus destinasi wisata religi yang berlokasi di Jalan KH. A. Wahid Hasyim Nomor 3, kawasan Pasar Tavip.

Stasiun Kereta Api Binjai dan Perkembangan Transportasi

Stasiun Kereta Api Binjai menandai awal perkembangan transportasi modern di Kota Binjai. Perusahaan Deli Spoorweg Maatschappij mendirikan stasiun ini pada tahun 1889. Selanjutnya, stasiun mulai melayani penumpang secara resmi pada 19 Desember 1890 dengan rute Binjai–Medan.

Bangunan stasiun berdiri di ketinggian sekitar 25,30 meter di atas permukaan laut. Hingga saat ini, pengelola mempertahankan bentuk asli bangunan sekaligus mengoperasikan layanan transportasi kereta api. Oleh sebab itu, stasiun yang terletak di Jalan Ikan Paus, Kecamatan Binjai Timur, tidak hanya mempermudah mobilitas warga, tetapi juga mendukung akses wisatawan menuju berbagai destinasi di Kota Binjai.

Gedung Kerapatan Lama sebagai Pusat Keadilan Bersejarah

Gedung Kerapatan Binjai mencerminkan perjalanan sistem pemerintahan dan hukum di Kota Binjai. Tengku Muhammad Adil atau Pangeran Adil mendirikan gedung ini pada tahun 1930 saat ia memimpin wilayah Binjai. Pada masa awal, bangunan ini berfungsi sebagai Balai Kerapatan Kesultanan Langkat.

Seiring berjalannya waktu, gedung tersebut menjalankan peran sebagai Pengadilan Negeri pada masa kolonial. Saat ini, masyarakat mengenal gedung yang berlokasi di Jalan Sultan Hasanuddin, Kecamatan Binjai Kota, sebagai Gedung Pengadilan Agama Kota Binjai. Lebih dari itu, pemerintah meresmikan bangunan ini sebagai Museum Keadilan Kota Binjai pada tahun 2011. Dengan pencapaian tersebut, gedung ini tercatat sebagai museum keadilan pertama di Sumatera Utara.

Kuil Shri Marriamman dan Harmoni Keberagaman

Kuil Shri Marriamman Binjai menunjukkan keberagaman budaya dan agama di Kota Binjai. Seorang pemimpin etnis Tamil bernama Muttu Kapitan menggagas pembangunan kuil ini pada tahun 1880. Ia mengajukan permohonan kepada Sultan Langkat untuk menyediakan tempat ibadah umat Hindu.

Kuil ini berdiri di Jalan Jenderal Ahmad Yani, Kelurahan Kartini. Dari sisi arsitektur, bangunan kuil menampilkan ciri khas empat pilar utama yang menopang struktur utama. Selain menjadi pusat kegiatan keagamaan, Kuil Shri Marriamman juga menyelenggarakan perayaan Maha Puja Thaipusam. Pemerintah Kota Binjai memasukkan perayaan tersebut ke dalam Calendar of Event sebagai daya tarik wisata budaya tahunan.

Penutup

Dengan demikian, keempat bangunan cagar budaya tersebut memperlihatkan kekayaan sejarah Kota Binjai dari berbagai aspek kehidupan. Oleh karena itu, pelestarian bangunan bersejarah ini memegang peran penting dalam menjaga identitas kota. Selain itu, pengelolaan yang berkelanjutan dapat mendorong pengembangan wisata budaya dan edukasi sejarah. Pada akhirnya, Kota Binjai mampu menegaskan posisinya sebagai kota yang tidak hanya berkembang secara modern, tetapi juga menghargai akar sejarah dan keberagaman budayanya.