Warga Jati Padang – kembali menghadapi luapan air dari Kali Pulo meski pemerintah telah menyelesaikan perbaikan tanggul. Peristiwa tersebut menimbulkan pertanyaan besar di tengah masyarakat karena perbaikan fisik tanggul belum mampu menghentikan banjir. Oleh karena itu, warga menilai persoalan utama tidak berasal dari struktur tanggul, melainkan dari kondisi sungai yang semakin menyempit dan dangkal.

Ketua RT 003 RW 006 Jati Padang, Burhan, menyampaikan langsung kondisi tersebut kepada awak media saat meninjau lokasi. Menurutnya, air tidak menjebol tanggul, melainkan berbalik arah akibat penyempitan aliran sungai. Akibat aliran yang tidak lancar, air hujan dengan debit tinggi tidak menemukan ruang tampung yang memadai.

Selain itu, Burhan menegaskan bahwa penyempitan Kali Pulo terjadi di wilayah hulu. Sejumlah bangunan rumah berdiri tepat di atas badan sungai dan menghambat aliran air. Ketika hujan deras turun, air mengalir dengan volume besar, lalu menabrak hambatan tersebut dan berbalik ke arah permukiman warga.

Luapan air Kali Pulo di Jati Padang akibat penyempitan aliran sungai

Tampak Tanggul Baswedan yang sudah dibangun kembali usai jebol diterjang arus sungai

Bangunan di Hulu Sungai Hambat Aliran Air

Kondisi di bagian hulu Kali Pulo memperlihatkan masalah yang terus berulang dari tahun ke tahun. Warga melihat banyak rumah memanfaatkan bantaran sungai tanpa memperhatikan fungsi utama kali sebagai jalur air. Akibatnya, kapasitas sungai terus berkurang seiring waktu.

Kemudian, air yang terus meningkat volumenya menekan sisi tanggul di wilayah Jati Padang. Tekanan tersebut akhirnya membuat tanggul roboh ke area lapangan yang berada di samping Musala Sabili. Setelah itu, air meluap dan mengalir ke jalan kecil di permukiman warga.

Tidak hanya itu, luapan air juga masuk ke beberapa rumah penduduk. Satu rumah yang berdiri tepat di sisi Kali Pulo mengalami kerusakan parah karena arus air menyeret material bangunan. Di sisi lain, beberapa rumah lain mengalami retakan dan kerusakan dinding akibat dorongan air yang kuat.

Warga Dorong Normalisasi Kali Pulo

Melihat dampak yang terus berulang, warga Jati Padang menyampaikan tuntutan yang jelas kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Burhan menilai pemerintah perlu fokus pada penyelesaian akar masalah banjir, bukan hanya pada perbaikan tanggul.

Menurutnya, normalisasi Kali Pulo harus berjalan secara menyeluruh dan berkelanjutan. Selain itu, pengerukan dasar sungai juga perlu dilakukan agar kali mampu menampung debit air yang lebih besar saat hujan deras datang.

“Sejak dulu, kami mendorong kelanjutan normalisasi kali dan pengerukan sungai. Dengan begitu, Kali Pulo bisa menampung air lebih banyak dan tidak meluap ke permukiman,” ujar Burhan.

Lebih lanjut, warga berharap pemerintah menertibkan bangunan yang berdiri di atas aliran sungai. Penertiban tersebut, menurut warga, dapat mengembalikan fungsi alami sungai sebagai jalur air sekaligus mengurangi risiko banjir di wilayah padat penduduk.

Perbaikan Tanggul Belum Menjawab Masalah Banjir

Sebagai informasi, pemerintah telah menyelesaikan pembangunan Tanggul Baswedan pada awal Desember 2025. Tanggul tersebut memiliki panjang 36,6 meter, tinggi 2,8 meter, dan ketebalan 50 sentimeter. Namun demikian, keberadaan tanggul tersebut belum mampu menahan luapan air saat hujan deras mengguyur wilayah Jati Padang.

Oleh sebab itu, warga menilai pendekatan penanganan banjir perlu berubah. Pemerintah perlu mengombinasikan pembangunan infrastruktur dengan penataan sungai secara menyeluruh. Jika tidak, banjir berpotensi kembali mengancam keselamatan dan kenyamanan warga setiap musim hujan.

Pada akhirnya, warga Jati Padang berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret. Normalisasi Kali Pulo, pengerukan sungai, serta penertiban bangunan liar menjadi solusi yang menurut warga paling masuk akal. Dengan langkah tersebut, masyarakat optimistis wilayah Jati Padang dapat terbebas dari ancaman banjir yang terus berulang.