Bulan suci Ramadhan – 1447 Hijriah semakin dekat dan umat Islam di berbagai negara, termasuk Indonesia, mulai mempersiapkan diri secara menyeluruh. Ramadhan memiliki kedudukan penting dalam kehidupan keagamaan karena menjadi waktu pelaksanaan ibadah puasa wajib, peningkatan amal ibadah, serta penguatan nilai sosial dan spiritual. Oleh sebab itu, kepastian jadwal awal Ramadhan menjadi informasi yang sangat di butuhkan masyarakat.

Kalender Hijriah yang di susun Kementerian Agama Republik Indonesia memperkirakan awal puasa jatuh pada pertengahan Februari 2026. Perkiraan ini membantu umat Islam mempersiapkan kondisi fisik dan mental, sekaligus merencanakan pelunasan kewajiban ibadah seperti utang puasa dari Ramadhan sebelumnya. Dengan persiapan yang matang, pelaksanaan ibadah puasa dapat berlangsung secara optimal.

Kalender Hijriah 2026 penentuan awal Ramadhan

Kapan puasa Zulhijah, Tarwiyah, dan Arafah, jelang Idul Adha 2025. Kedua puasa ini dilaksanakan pada bulan Dzulhijjah dan menjadi bagian penting dari amalan spiritual menjelang hari raya kurban.

Penetapan Awal Ramadhan Menurut Muhammadiyah

Di Indonesia, organisasi kemasyarakatan Islam berperan aktif dalam memberikan panduan awal Ramadhan. Muhammadiyah, melalui Pimpinan Pusatnya, menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal untuk menentukan awal bulan Hijriah. Metode ini menekankan keberadaan bulan di atas ufuk sebagai penentu di mulainya bulan baru.

Melalui Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 yang di rilis pada Oktober 2025, organisasi ini menetapkan bahwa 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Penetapan tersebut memberikan kepastian waktu bagi warga Muhammadiyah dan masyarakat yang mengikuti metode hisab sebagai pedoman ibadah.

Proses Penetapan Pemerintah Melalui Sidang Isbat

Berbeda dengan Muhammadiyah, Pemerintah Indonesia menetapkan awal Ramadhan melalui mekanisme Sidang Isbat. Kementerian Agama menyelenggarakan sidang ini dengan melibatkan berbagai unsur, mulai dari perwakilan Majelis Ulama Indonesia, organisasi kemasyarakatan Islam, hingga para ahli astronomi.

Dalam praktiknya, pemerintah mengombinasikan perhitungan hisab dan hasil rukyat atau pemantauan hilal secara langsung. Pendekatan ini bertujuan menjaga kehati-hatian sekaligus membangun kebersamaan umat Islam. Sebagai acuan awal, Kalender Hijriah 2026 yang di terbitkan Kementerian Agama mencantumkan 1 Ramadhan 1447 H pada Kamis, 19 Februari 2026.

Perbedaan Metode dan Kriteria MABIMS

Perbedaan penetapan awal Ramadhan antara Muhammadiyah dan pemerintah bukanlah hal baru. Pemerintah Indonesia mengacu pada kriteria MABIMS yang di sepakati oleh Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Kriteria tersebut mensyaratkan ketinggian hilal minimal 3 derajat dan sudut elongasi minimal 6,4 derajat agar dapat di nyatakan terlihat.

Dalam situasi tertentu, posisi bulan sudah berada di atas ufuk menurut hisab Muhammadiyah, tetapi belum memenuhi standar visibilitas MABIMS. Ketika kondisi ini terjadi, Muhammadiyah menetapkan Ramadhan lebih awal karena bulan telah wujud. Sebaliknya, pemerintah menunda penetapan karena hilal di nilai belum memenuhi syarat rukyat. Perbedaan ini mencerminkan keragaman pendekatan keilmuan dalam Islam.

Hitung Mundur Menuju Puasa Ramadhan 2026

Jika perhitungan dimulai dari Jumat, 23 Januari 2026, menuju awal Ramadhan versi Muhammadiyah pada 18 Februari 2026, maka waktu yang tersisa sekitar 26 hari. Artinya, umat Islam memiliki kurang lebih 3 minggu 5 hari untuk mempersiapkan diri sebelum memasuki bulan puasa.

Masa ini sering dimanfaatkan sebagai periode transisi dari bulan Rajab dan Sya’ban menuju Ramadhan. Selama waktu tersebut, banyak umat Islam meningkatkan ibadah sunnah, memperbaiki pola hidup, serta menata kesiapan spiritual agar dapat menjalani puasa dengan lebih baik.

Kewajiban Mengganti Puasa Sebelum Ramadhan

Menjelang Ramadhan, umat Islam juga perlu memperhatikan kewajiban mengganti puasa yang tertinggal pada Ramadhan sebelumnya. Setiap Muslim yang memiliki utang puasa wajib melaksanakan puasa qadha sebelum datangnya Ramadhan berikutnya.

Pelaksanaan qadha puasa harus disertai niat yang dibaca pada malam hari. Lafal niat qadha puasa berbunyi Nawaitu shauma ghadin ‘an qadha’i fardhi syahri Ramadhana lillahi ta’ala, yang berarti berniat mengganti puasa Ramadhan karena Allah SWT. Kementerian Agama menegaskan bahwa batas waktu pelaksanaan qadha puasa adalah hingga akhir bulan Sya’ban.

Penutup

Dengan semakin dekatnya bulan Ramadhan 1447 Hijriah, kepastian jadwal dan kesiapan umat menjadi aspek yang saling berkaitan. Perbedaan metode penetapan awal Ramadhan menunjukkan dinamika keilmuan dalam Islam dan mengajarkan pentingnya sikap saling menghormati. Melalui persiapan yang matang, umat Islam di harapkan dapat menyambut Ramadhan dengan kondisi spiritual dan fisik yang lebih optimal.