Wilayah Karangasem – menghadapi dua peristiwa kebakaran pura dalam waktu yang hampir bersamaan. Kejadian ini berlangsung saat hujan deras disertai petir melanda beberapa kecamatan. Dalam konteks ini, cuaca ekstrem memunculkan ancaman serius bagi bangunan suci. Total kerugian materiil dari dua kejadian tersebut mencapai sekitar Rp3,6 miliar.

Pada saat yang sama, peristiwa ini memicu perhatian luas dari masyarakat dan pemerintah daerah. Selain itu, kejadian ini menegaskan pentingnya kesiapsiagaan terhadap bencana alam. Oleh karena itu, evaluasi terhadap sistem pengamanan pura menjadi agenda penting.

kebakaran pura di Karangasem akibat sambaran petir

Petugas Damkar berusaha memadamkan api kebakaran Pura di Kabupaten Karangasem, Bali, Senin (12/1). (Dok. Damkar Karangasem)

Insiden Kebakaran di Pura Pedarman Arya Gajah Para

Pada Senin siang, api muncul di Pura Pedarman Arya Gajah Para. Lokasi pura berada di Banjar Dinas Batumadeg, Desa Besakih, Kecamatan Rendang. Waktu kejadian tercatat sekitar pukul 13.50 WITA. Pada kondisi tersebut, hujan turun cukup deras dan disertai petir.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Karangasem, Artha Negara, menyampaikan bahwa sambaran petir memicu kebakaran di area pura. Pernyataan ini muncul setelah tim melakukan peninjauan awal di lokasi kejadian.

Dalam peristiwa ini, api merusak satu meru tumpang sembilan serta satu pelinggih. Nilai kerugian materiil mencapai sekitar Rp1,6 miliar. Namun demikian, petugas berhasil menjaga delapan bangunan lain tetap aman. Selain itu, tiga bangunan pura tidak mengalami kerusakan.

Untuk mengendalikan kobaran api, petugas mengerahkan enam unit armada pemadam kebakaran. Sebanyak 19 personel terlibat langsung dalam proses pemadaman. Selanjutnya, petugas menghabiskan sekitar 23.000 liter air. Regu 3 Pos Pemadam Selat dan Pos Karangasem memimpin penanganan. Pada saat yang sama, petugas dari Damkar Klungkung turut memberikan bantuan.

Kebakaran di Pura Bukit Tegeh Terjadi Sehari Sebelumnya

Sehari sebelumnya, kebakaran juga terjadi di Pura Bukit Tegeh. Pura ini terletak di Banjar Dinas Sangkan Gunung, Desa Sangkan Gunung, Kecamatan Sidemen. Api mulai terlihat sekitar pukul 15.24 WITA pada Minggu sore.

Dalam kejadian ini, api membakar satu meru tumpang sebelas serta satu meru tumpang tiga. Area terdampak mencapai sekitar 20 meter kali 21 meter. Kerugian materiil pada kejadian ini diperkirakan mencapai Rp2 miliar.

Setelah menerima laporan warga, petugas pemadam kebakaran segera bergerak ke lokasi. Sebanyak 23 personel turun langsung ke lapangan. Enam unit armada bergerak dari Pos Karangasem dan Pos Selat. Selanjutnya, petugas menggunakan sekitar 19.000 liter air untuk mengendalikan api.

Meskipun api menyebar cukup cepat, petugas berhasil melindungi beberapa bangunan suci. Bangunan yang tetap aman meliputi satu pesamuan kelod, satu pesamuan baler, serta enam pelinggih. Keberhasilan ini mengurangi dampak kerusakan secara signifikan.

Evaluasi Penyebab dan Langkah Antisipasi

Berdasarkan evaluasi awal, petugas mengaitkan kedua kejadian kebakaran dengan sambaran petir. Kondisi cuaca ekstrem memperkuat dugaan tersebut. Oleh karena itu, pemerintah daerah mulai meninjau sistem perlindungan bangunan suci.

Pemasangan penangkal petir menjadi fokus utama pembahasan. Selain itu, pengelola pura perlu melakukan pemeriksaan rutin terhadap struktur bangunan. Dengan langkah ini, risiko kebakaran akibat petir dapat ditekan.

Petugas pemadam kebakaran juga mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan. Koordinasi antara aparat dan pengurus pura terus berjalan. Pada akhirnya, kolaborasi ini berperan penting dalam pencegahan kejadian serupa.

Dampak Sosial dan Budaya bagi Masyarakat

Kebakaran pura tidak hanya menimbulkan kerugian materiil. Peristiwa ini juga berdampak pada kehidupan spiritual masyarakat setempat. Pura berfungsi sebagai pusat aktivitas keagamaan dan budaya.

Oleh sebab itu, masyarakat bersama pemerintah mulai membahas langkah pemulihan. Proses rehabilitasi membutuhkan dukungan bersama. Semangat gotong royong kembali muncul sebagai respons terhadap bencana ini.

Sebagai penutup, kejadian ini mengingatkan pentingnya perlindungan bangunan bersejarah dari ancaman alam. Dengan kesiapsiagaan yang lebih baik, masyarakat dapat mengurangi risiko kebakaran pura pada masa mendatang.