Demam Laki Laki – banyak orang pernah mendengar keluhan laki-laki yang merasa sangat tersiksa saat mengalami demam atau flu. Kondisi tersebut sering di gambarkan secara berlebihan, bahkan di samakan dengan perasaan “seperti mau meninggal”. Budaya populer kemudian mengenal fenomena ini dengan istilah man flu. Istilah tersebut merujuk pada kondisi ketika laki-laki menunjukkan gejala flu atau demam dengan ekspresi penderitaan yang lebih kuat dibandingkan perempuan.

Sebagian masyarakat menganggap man flu hanya sebagai candaan atau bentuk sikap berlebihan. Banyak pula yang menilai keluhan tersebut tidak perlu ditanggapi serius karena flu dianggap sebagai penyakit ringan. Namun, pandangan tersebut tidak sepenuhnya tepat. Penelitian medis dan kajian psikologi menunjukkan bahwa terdapat faktor biologis dan psikologis yang membuat laki-laki merasakan demam dengan intensitas yang berbeda.

Perbedaan Sistem Imun Laki-Laki dan Perempuan

Dokter Spesialis Penyakit Dalam dan akademisi di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Restuti Hidayani Saragih, menjelaskan bahwa sistem kekebalan tubuh laki-laki memang berbeda secara biologis dengan perempuan. Salah satu faktor utama yang memengaruhi kondisi ini adalah hormon testosteron.

Testosteron berperan dalam menekan sistem imun. Berbagai riset menunjukkan bahwa laki-laki dengan kadar testosteron tinggi memiliki respons antibodi yang lebih rendah, termasuk terhadap vaksin influenza. Kondisi tersebut membuat tubuh laki-laki lebih lambat dan kurang efektif dalam melawan infeksi virus. Akibatnya, proses penyembuhan berjalan lebih berat dan memerlukan waktu lebih lama.

Sebaliknya, perempuan memiliki hormon estrogen yang justru memperkuat sistem kekebalan tubuh. Estrogen membantu tubuh memproduksi antibodi secara lebih efisien dan merespons infeksi dengan lebih cepat. Selain itu, perempuan memiliki dua kromosom X yang menyimpan banyak gen terkait sistem imun, sementara laki-laki hanya memiliki satu kromosom X. Faktor genetik ini memberikan keunggulan tambahan bagi perempuan dalam menghadapi penyakit infeksi.

Laki-laki mengalami demam dan merasa lemas di tempat tidur

ilustrasi sakit. Mengapa Laki-laki Kalau Demam Seperti Mau Meninggal dan Penuh Drama? Ini Alasan Ilmiahnya.

Demam sebagai Respons Alami Tubuh

Demam merupakan reaksi alami tubuh terhadap berbagai pemicu, seperti virus, bakteri, parasit, maupun jamur. Saat infeksi terjadi, tubuh memproduksi zat kimia yang disebut sitokin. Zat ini memicu peningkatan suhu tubuh, nyeri otot, rasa lelah, dan penurunan nafsu makan.

Respons tersebut bertujuan untuk “memaksa” tubuh beristirahat total agar energi dapat di fokuskan pada proses penyembuhan. Secara prinsip, mekanisme ini terjadi pada laki-laki maupun perempuan. Namun, karena sistem imun laki-laki cenderung lebih lemah, respons demam terasa lebih berat dan menyiksa.

Dokter Restuti menegaskan bahwa kondisi ini bukan bentuk kelemahan personal, melainkan konsekuensi biologis. Oleh karena itu, ia mengimbau agar masyarakat tidak meremehkan keluhan laki-laki saat mengalami demam atau flu.

Risiko Medis yang Lebih Tinggi pada Laki-Laki

Data epidemiologi dari Hong Kong (2004–2010) dan Amerika Serikat (1997–2007) menunjukkan bahwa laki-laki memiliki risiko lebih tinggi untuk dirawat di rumah sakit atau meninggal dunia akibat flu dibandingkan perempuan. Fakta ini tetap berlaku meskipun telah memperhitungkan faktor penyakit penyerta seperti gangguan jantung, kanker, dan penyakit kronis lainnya.

Temuan tersebut memperkuat pandangan bahwa man flu bukan sekadar mitos. Laki-laki yang mengalami flu sebaiknya tidak mengabaikan gejala yang muncul. Istirahat cukup, pemantauan kondisi tubuh, dan langkah pencegahan seperti vaksinasi influenza menjadi hal yang sangat penting untuk menurunkan risiko komplikasi.

Penjelasan Psikologis di Balik Man Flu

Selain faktor biologis, psikolog dari Ibunda.id, Danti Wulan Manunggal, menjelaskan bahwa aspek psikologis turut memengaruhi cara laki-laki merespons demam. Dari sisi neurologis, otak laki-laki memiliki lebih banyak reseptor suhu di area tertentu. Kondisi ini membuat peningkatan suhu tubuh saat demam terasa lebih ekstrem dan menyiksa.

Danti juga menyoroti pengaruh konstruksi sosial. Sejak kecil, banyak laki-laki tumbuh dalam budaya yang menuntut mereka untuk tampil kuat dan tidak mudah mengeluh. Akibatnya, mereka cenderung menahan rasa sakit hingga kondisi tubuh benar-benar menurun. Ketika sakit mencapai titik tertentu, ekspresi penderitaan muncul secara lebih dramatis sebagai bentuk komunikasi bahwa mereka membutuhkan bantuan.

Kehilangan Kendali dan Strategi Coping

Bagi sebagian laki-laki, identitas diri sering kali berkaitan erat dengan kemandirian dan kemampuan fisik. Saat demam memaksa mereka berbaring dan kehilangan produktivitas, muncul perasaan tidak berdaya. Otak kemudian menerjemahkan kondisi tersebut sebagai ancaman besar, sehingga memicu kecemasan berlebihan.

Selain itu, laki-laki dan perempuan memiliki strategi coping yang berbeda. Perempuan umumnya lebih terbiasa menghadapi rasa sakit periodik, seperti saat menstruasi, sehingga memiliki ambang toleransi yang terlatih. Sebaliknya, laki-laki cenderung fokus secara intens pada sensasi tubuh yang dirasakan. Fokus berlebihan ini justru memperkuat persepsi nyeri dan ketidaknyamanan.

Dalam konteks evolusioner, Danti menjelaskan bahwa fenomena man flu dapat berfungsi sebagai mekanisme pertahanan. Dengan merasa sangat sakit, laki-laki terdorong untuk benar-benar menghentikan aktivitas dan menghemat energi, sehingga tubuh memiliki kesempatan lebih besar untuk pulih.