Budaya Magelang menyimpan banyak tradisi yang masih bertahan hingga sekarang, salah satunya Jaran Kepang Papat dari Dusun Mantran Wetan, Desa Girirejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang. Kesenian warisan leluhur ini memiliki ciri khas yang tidak dimiliki pertunjukan jaran kepang pada umumnya. Keunikan tersebut membuat masyarakat setempat terus menjaga keberadaannya sebagai bagian penting dari rangkaian tradisi Saparan yang berlangsung setiap tahun.
Jaran Kepang Papat bukan sekadar hiburan rakyat. Warga Mantran Wetan memandangnya sebagai pusaka budaya yang sarat nilai spiritual, sejarah, serta filosofi kehidupan. Karena itu, masyarakat tetap menyelenggarakan pertunjukan ini sesuai tradisi, meskipun tidak ada penonton yang menyaksikan secara langsung.
Sejarah Jaran Kepang Papat yang Terus Dijaga
Masyarakat Mantran Wetan mewariskan Jaran Kepang Papat secara turun-temurun. Keturunan keluarga tertentu bertugas mempertahankan kesenian tersebut agar tidak terputus. Ketua Jaran Kepang Papat Mantran Wetan, Jesaparjo, menjelaskan bahwa dirinya merupakan generasi keempat yang menerima amanah untuk melestarikan tradisi tersebut.
Ia menegaskan bahwa keluarganya tidak boleh menghentikan pementasan Jaran Kepang Papat. Sebaliknya, mereka harus meneruskan warisan itu kepada generasi berikutnya. Tradisi tersebut menjadi bentuk penghormatan kepada para leluhur sekaligus menjaga identitas budaya masyarakat Mantran Wetan.
Hingga kini, masyarakat hanya menggelar Jaran Kepang Papat pada tiga momentum penting setiap tahun, yaitu saat Saparan bertepatan dengan Rabu Pahing, tanggal 1 Syawal, dan 1 Suro dalam rangka jamasan. Ketiga agenda tersebut menjadi waktu wajib untuk mempertunjukkan kesenian ini.
Keunikan Jaran Kepang Papat Berbeda dari Jaran Kepang Lain
Nama Jaran Kepang Papat berasal dari jumlah pemainnya yang hanya terdiri atas empat orang. Keempat penari tersebut memiliki peran masing-masing selama pertunjukan berlangsung.
Dua penari di bagian depan membawa pedang, sedangkan dua penari lainnya memegang tombak yang dihiasi bendera merah. Mereka menampilkan adegan peperangan sebagai simbol perjuangan hidup yang penuh tantangan.
Selain jumlah pemainnya, properti kuda kepang juga memiliki warna khusus, yaitu hijau dan kuning. Warga pernah mencoba mengganti warna tersebut menjadi hitam dan putih. Namun, menurut kepercayaan masyarakat setempat, perubahan itu tidak mendapat restu dari sosok penjaga gaib sehingga warna hijau dan kuning kembali di gunakan hingga sekarang.
Iringan musiknya pun jauh lebih sederhana di bandingkan pertunjukan jaran kepang lain. Para penabuh hanya memainkan bende dengan tiga ukuran berbeda, terbang, dan kecer. Meski sederhana, perpaduan alat musik tersebut tetap menghasilkan nuansa sakral yang menjadi ciri khas Jaran Kepang Papat.
Tradisi Saparan Selalu Diawali Jaran Kepang Papat
Dalam setiap perayaan Saparan di Mantran Wetan, Jaran Kepang Papat selalu tampil sebagai pembuka. Setelah pertunjukan selesai, masyarakat melanjutkan rangkaian acara dengan pementasan wayang kulit yang berlangsung pada siang hingga malam hari.
Sebelum pentas di mulai, warga lebih dahulu menyiapkan berbagai sesaji sebagai bagian dari tradisi. Sesaji tersebut biasanya terdiri atas bunga, kinang, gula, gula kacang, daun sirih, kemenyan, rokok, dan kopi.
Apabila seseorang menggelar pertunjukan sebagai bentuk pemenuhan nazar, perlengkapan sesaji menjadi lebih lengkap. Warga menambahkan ingkung sepasang, tumpeng, jenang merah putih, jajanan pasar, serta berbagai lauk-pauk sebagai pelengkap.

Pementasan Jaran Kepang Papat di halaman rumah Jesaparjo Dusun Mantran Wetan, Girirejo, Ngablak, Kabupaten Magelang saat Saparan, Rabu (29/7/2026).
Kesurupan dan Wejangan Menjadi Bagian Tradisi
Saat adegan peperangan berlangsung, beberapa penari terkadang mengalami kesurupan. Masyarakat tidak menganggap peristiwa tersebut sebagai hiburan semata, melainkan bagian dari tradisi yang telah berlangsung sejak lama.
Melalui kondisi tersebut, penari sering menyampaikan berbagai pesan kepada warga. Wejangan itu umumnya berisi ajakan agar masyarakat lebih berhati-hati dalam menjalani kehidupan sehari-hari, menjaga kerukunan, serta tetap menghormati adat yang di wariskan para leluhur.
Karena alasan itu, warga memandang pertunjukan Jaran Kepang Papat memiliki makna spiritual yang sangat kuat.
Filosofi Empat Penjuru Kehidupan
Tokoh masyarakat Mantran Wetan, Supadi Haryanto, menjelaskan bahwa angka empat dalam Jaran Kepang Papat bukan sekadar menunjukkan jumlah pemain. Angka tersebut melambangkan empat penjuru mata angin yang di kenal dalam filosofi Jawa sebagai kiblat papat lima pancer.
Filosofi tersebut mengandung harapan agar masyarakat selalu memperoleh keselamatan, rezeki, jodoh, dan keberkahan dari Tuhan Yang Maha Esa.
Warna hijau dan kuning pada kuda kepang juga memiliki arti tersendiri. Warna hijau melambangkan kemakmuran yang selaras dengan kehidupan masyarakat sebagai petani hortikultura. Sementara itu, warna kuning menggambarkan kesucian hati, keikhlasan, serta harapan agar warga selalu memperoleh berkah dalam menjalani kehidupan.
Masyarakat tetap mempertahankan makna simbol tersebut tanpa melakukan perubahan karena mereka menghormati pesan para sesepuh.
Menjadi Pusaka Budaya Mantran Wetan
Supadi mengakui bahwa sejarah pasti berdirinya Jaran Kepang Papat belum memiliki catatan tertulis. Namun, masyarakat percaya kesenian tersebut telah hadir sejak masa lampau dan menjadi bagian dari identitas Dusun Mantran Wetan.
Warga bahkan menyakralkan Jaran Kepang Papat sebagai pusaka budaya desa. Mereka tidak pernah menambah jumlah pemain menjadi lima atau lebih karena para sesepuh mengamanatkan agar pertunjukan tetap mempertahankan formasi empat penari.
Kepercayaan masyarakat terhadap tradisi ini juga terlihat dari banyaknya warga yang pernah bernazar untuk mengundang Jaran Kepang Papat setelah harapannya terkabul. Salah satunya di lakukan Sih Agung Prasetyo saat berhasil menjadi kepala dusun. Ia menggelar pertunjukan secara sederhana tanpa panggung maupun sistem suara, tetapi tetap mengikuti seluruh tata cara adat yang berlaku.
Di sisi lain, warga Mantran Wetan menegaskan bahwa keberadaan penonton bukan syarat utama berlangsungnya pertunjukan. Selama tradisi Saparan berlangsung, Jaran Kepang Papat tetap harus di mainkan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus upaya menjaga kelestarian budaya yang telah di wariskan selama bergenerasi.