Musim Semi – selalu menjadi periode paling dinantikan bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke Jepang. Keindahan bunga sakura yang bermekaran setiap tahun menjadikan negara ini sebagai salah satu destinasi wisata favorit dunia. Menariknya, tahun 2026 di pandang sebagai momen yang relatif lebih menguntungkan dari sisi biaya perjalanan. Berbagai indikator industri pariwisata menunjukkan bahwa pengeluaran untuk liburan sakura di Jepang cenderung lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.

Sejumlah pelaku industri perjalanan mencatat adanya penurunan harga pada berbagai komponen utama perjalanan, mulai dari tiket pesawat, akomodasi, hingga paket wisata. Rata-rata penurunan biaya tersebut berada di kisaran 10 hingga 20 persen di bandingkan dengan tarif pada tahun 2025. Kondisi ini membuka peluang lebih luas bagi wisatawan internasional untuk merencanakan liburan ke Jepang tanpa beban anggaran yang terlalu tinggi.

Biaya trip musim sakura Jepang 2026 lebih murah dibandingkan 2025

Bunga Sakura yang bermekaran di Kota Tokyo, Jepang. (AFP/RICHARD A. BROOKS)

Destinasi Populer Tetap Menarik dengan Biaya Lebih Kompetitif

Kota-kota tujuan utama wisata sakura tetap menjadi primadona pada 2026. Destinasi seperti Kyoto dan Osaka masih berada di daftar teratas kunjungan wisatawan. Kedua kota ini dikenal memiliki perpaduan lanskap sakura, budaya tradisional, serta fasilitas wisata modern yang lengkap.

Berbeda dengan tren sebelumnya, harga layanan wisata di kota-kota favorit tersebut justru menunjukkan penyesuaian ke arah yang lebih bersahabat. Penurunan harga tidak hanya muncul pada periode di luar musim ramai, tetapi di perkirakan bertahan hingga puncak musim sakura yang biasanya terjadi pada Maret hingga April. Kondisi ini memberikan keuntungan besar bagi wisatawan yang ingin berkunjung pada waktu terbaik tanpa harus membayar tarif tinggi.

Nilai Tukar Yen Memberi Keuntungan Tambahan

Salah satu faktor utama yang mendorong turunnya biaya liburan ke Jepang pada 2026 adalah kondisi nilai tukar mata uang yen. Pada pertengahan Januari 2026, yen berada pada level yang relatif lemah terhadap dolar Amerika Serikat. Nilai tukar ini secara langsung meningkatkan daya beli wisatawan asing yang menukarkan mata uang mereka ke yen.

Dengan nilai tukar yang menguntungkan, pengeluaran harian wisatawan menjadi lebih efisien. Biaya makan, transportasi lokal, tiket masuk objek wisata, hingga belanja suvenir terasa lebih ringan. Kondisi ini juga membuat paket perjalanan yang ditawarkan oleh agen wisata menjadi lebih menarik karena dapat dikemas dengan harga yang lebih kompetitif.

Ketersediaan Akomodasi Masih Relatif Longgar

Faktor lain yang turut menekan biaya liburan adalah kondisi pasar akomodasi. Pada awal 2026, tingkat hunian hotel di Jepang belum menunjukkan lonjakan signifikan. Banyak hotel, termasuk yang berada di kawasan strategis, masih memiliki ketersediaan kamar dalam jumlah memadai.

Situasi ini menciptakan persaingan sehat antar penyedia akomodasi. Hotel berlomba menawarkan harga yang lebih menarik untuk menarik minat wisatawan lebih awal. Dampaknya, wisatawan memiliki kesempatan memilih penginapan dengan lokasi yang lebih baik dan fasilitas yang lebih lengkap tanpa harus membayar tarif premium seperti pada musim sakura tahun-tahun sebelumnya.

Dampak Positif bagi Perencanaan Wisatawan

Kombinasi nilai tukar yen yang rendah dan ketersediaan akomodasi yang longgar memberikan fleksibilitas lebih besar dalam perencanaan perjalanan. Wisatawan dapat menyusun itinerary yang lebih nyaman, memperpanjang durasi liburan, atau menambahkan destinasi baru di luar kota-kota utama.

Kondisi ini juga mengurangi tekanan finansial yang biasanya muncul saat merencanakan liburan sakura. Wisatawan tidak lagi harus terburu-buru memesan jauh hari hanya untuk menghindari lonjakan harga ekstrem. Dengan perencanaan yang matang, liburan ke Jepang pada 2026 dapat berjalan lebih santai dan efisien.

Sakura Tetap Menjadi Daya Tarik Utama Jepang

Terlepas dari faktor harga, daya tarik utama liburan ke Jepang tetap terletak pada pesona musim sakura. Mekarnya bunga sakura menjadi simbol keindahan dan kefanaan yang lekat dengan budaya Jepang. Taman kota, tepi sungai, hingga kawasan bersejarah di penuhi nuansa warna merah muda yang khas.

Dengan biaya perjalanan yang lebih terjangkau, lebih banyak wisatawan dapat menikmati pengalaman tersebut secara maksimal. Mereka juga memiliki kesempatan untuk mengeksplorasi sisi lain Jepang, termasuk kuliner lokal dan tradisi musim semi yang kaya makna.

Prospek Wisata Jepang Sepanjang 2026

Melihat tren harga dan kondisi pasar saat ini, sektor pariwisata Jepang di perkirakan akan tetap menarik sepanjang 2026. Biaya perjalanan yang lebih bersahabat berpotensi meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan internasional, terutama dari kawasan Asia.

Bagi wisatawan yang ingin menyaksikan sakura secara langsung, tahun 2026 dapat menjadi salah satu waktu terbaik untuk berkunjung. Dengan memanfaatkan kondisi ekonomi dan pasar pariwisata yang ada, liburan ke Jepang dapat memberikan pengalaman berkesan dengan pengeluaran yang lebih terkendali.