Kontingen Indonesia – mencatatkan prestasi gemilang pada ajang ASEAN Para Games 2025 yang berlangsung di Thailand. Hingga menjelang hari terakhir kompetisi, Indonesia berhasil mengamankan 102 medali emas, jumlah yang jauh melampaui target awal sebanyak 82 emas. Capaian tersebut menegaskan kekuatan olahraga disabilitas Indonesia di tingkat Asia Tenggara.
Perolehan medali ini menunjukkan konsistensi performa para atlet Indonesia sepanjang kompetisi. Tim Indonesia tidak hanya memenuhi ekspektasi, tetapi juga melampauinya dengan selisih yang signifikan. Keberhasilan ini menjadi catatan penting mengingat kompetisi berlangsung di tengah berbagai tantangan teknis dan perubahan program pertandingan.
Evaluasi Positif di Tengah Regenerasi Atlet
Wakil Sekretaris Jenderal Komite Paralimpik Nasional Indonesia, Rima Ferdianto, menyampaikan bahwa pencapaian tersebut berada jauh di atas perkiraan awal. Ia menilai performa tim nasional sangat menjanjikan, terutama karena Indonesia sedang memasuki fase regenerasi atlet.
Menurutnya, sejumlah atlet yang tampil di Thailand menjalani debut pada level regional. Kehadiran atlet-atlet baru tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang Indonesia untuk membangun fondasi yang kuat menuju ajang internasional yang lebih besar, termasuk Paralimpiade Los Angeles 2028. Dalam konteks ini, capaian medali emas yang tinggi menunjukkan bahwa proses regenerasi berjalan efektif.
Rima juga mencatat bahwa peluang penambahan medali masih terbuka pada hari terakhir pertandingan. Ia menilai para atlet tetap menjaga fokus dan semangat juang hingga akhir kompetisi.

Atlet sepeda Indonesia Zulaika (kanan) dan pilotnya Nadia Septiani (kiri) melaju kencang di lintasan saat final B nomor 1.000 meter putri pada ASEAN Para Games 2025 di Thailand, yang digelar di Stadion Ulang Tahun ke-80, Nakhon Ratchasima, Thailand, pada Sabtu (24 Januari 2026). Zulaika meraih medali perunggu dengan catatan waktu 1 menit 17,046 detik.
Adaptasi Strategi di Tengah Perubahan Cabang Olahraga
ASEAN Para Games 2025 menghadirkan tantangan tersendiri bagi Indonesia. Beberapa cabang olahraga unggulan tidak masuk dalam program pertandingan tahun ini. Selain itu, panitia juga menerapkan penggabungan klasifikasi di sejumlah nomor lomba, sehingga meningkatkan tingkat persaingan antar-atlet.
Meski menghadapi kondisi tersebut, Indonesia mampu menunjukkan kemampuan adaptasi yang kuat. Tim pelatih dan atlet menyesuaikan strategi latihan serta pendekatan bertanding agar tetap kompetitif. Hasilnya terlihat dari konsistensi perolehan medali di berbagai cabang olahraga yang dipertandingkan.
Kemampuan beradaptasi ini memperlihatkan kematangan sistem pembinaan olahraga disabilitas nasional, yang tidak hanya bergantung pada cabang unggulan tertentu, tetapi juga mampu berkembang di berbagai disiplin.
Rincian Perolehan Medali Kontingen Indonesia
Hingga pertengahan kompetisi, Indonesia telah mengoleksi total 298 medali, terdiri dari 102 emas, 104 perak, dan 92 perunggu. Jumlah tersebut menempatkan Indonesia pada posisi yang sangat kompetitif dalam klasemen sementara, dengan peluang besar untuk mengakhiri ajang ini di peringkat kedua secara keseluruhan, tepat di bawah tuan rumah Thailand.
Capaian tersebut mencerminkan kedalaman kualitas atlet Indonesia di berbagai nomor pertandingan. Tidak hanya mengandalkan satu cabang olahraga, Indonesia menunjukkan kekuatan yang merata di sejumlah disiplin utama.
Atletik Para sebagai Penyumbang Medali Terbanyak
Cabang atletik para menjadi kontributor terbesar bagi perolehan medali Indonesia. Para atlet berhasil meraih 39 medali emas, 39 medali perak, dan 20 medali perunggu. Dominasi ini menegaskan posisi atletik sebagai tulang punggung prestasi Indonesia di ajang olahraga disabilitas regional.
Renang para juga memberikan kontribusi signifikan dengan raihan 22 medali emas, 28 medali perak, dan 17 medali perunggu. Konsistensi atlet renang dalam berbagai nomor menunjukkan efektivitas program pembinaan yang telah dijalankan selama beberapa tahun terakhir.
Sementara itu, judo para mencatatkan prestasi sempurna dengan memenangkan seluruh tujuh medali emas yang diperebutkan. Hasil tersebut memperlihatkan kesiapan teknis dan mental para atlet judo Indonesia dalam menghadapi persaingan ketat.
Perspektif Pelatih terhadap Performa Atlet
Pelatih atletik para Indonesia, Setiyo Budi Hartanto, mengungkapkan bahwa ia sempat merasakan kekhawatiran sebelum kompetisi di mulai. Ia menilai absennya beberapa cabang andalan serta penggabungan klasifikasi menjadi tantangan besar bagi tim.
Namun, ia juga menyoroti kemampuan para atlet untuk beradaptasi dengan cepat terhadap situasi tersebut. Menurutnya, atlet menunjukkan respons positif terhadap perubahan dan mampu menerjemahkan strategi pelatih ke dalam performa di lapangan. Hasil akhir yang diraih menjadi bukti nyata dari kesiapan mental dan teknis para atlet Indonesia.
Keberhasilan ini memperkuat keyakinan bahwa Indonesia berada di jalur yang tepat dalam membangun prestasi olahraga disabilitas secara berkelanjutan, dengan fondasi kuat menuju kompetisi internasional yang lebih besar di masa mendatang.