Banjir – kembali melanda sejumlah wilayah di Jakarta dan berdampak langsung pada aktivitas serta keselamatan warga. Akibat kondisi tersebut, ribuan penduduk memilih meninggalkan rumah mereka dan mengungsi ke tempat yang lebih aman. Berdasarkan catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah DKI Jakarta, sebanyak 1.349 jiwa telah mengungsi menyusul genangan air yang belum surut di berbagai kawasan ibu kota.
Peristiwa ini kembali menegaskan bahwa banjir masih menjadi persoalan struktural di Jakarta. Oleh karena itu, respons cepat dari warga dan pemerintah daerah menjadi faktor penting dalam menekan risiko yang lebih besar, terutama potensi korban jiwa.

Genangan air tampak merendam beberapa ruas jalan utama, salah satunya Jalan Jembatan Tiga Raya di Jakarta Utara. Tampak dalam foto, pengendara terpaksa mendorong motornya yang mogok saat melintasi banjir yang menggenangi Jalan Jembatan Tiga Raya, Jakarta Utara.
Persebaran Lokasi Pengungsian di Berbagai Wilayah
BPBD DKI Jakarta mengoordinasikan pengungsian warga ke sejumlah titik yang di nilai aman dari genangan. Selain itu, petugas memanfaatkan fasilitas umum yang mudah diakses dan berada di lokasi relatif tinggi. Masjid, musala, pos RW, aula, hingga RPTRA menjadi pilihan utama karena mampu menampung warga dalam jumlah cukup besar.
Di Jakarta Barat, misalnya, pengungsian berlangsung di beberapa kelurahan seperti Kedaung Kali Angke, Rawa Buaya, Jelambar, Kedoya Selatan, Kembangan Selatan, Kembangan Utara, Meruya Selatan, dan Kota Bambu Selatan. Di wilayah ini, warga memusatkan pengungsian di masjid, musala, PAUD, hingga rumah susun. Dengan demikian, petugas dapat melakukan pendataan dan distribusi bantuan secara lebih terfokus.
Sementara itu, Jakarta Pusat juga mencatat aktivitas pengungsian di Kelurahan Karet Tengsin. Warga memanfaatkan RPTRA, aula masjid, PAUD, serta pos RW sebagai tempat berlindung sementara. Selain dekat dengan permukiman, fasilitas tersebut memudahkan koordinasi antara warga dan aparat setempat.
Di sisi lain, Jakarta Timur melaporkan pengungsian di Kelurahan Cipinang Melayu dan Halim Perdana Kusuma. Warga mengungsi ke masjid dan aula kantor kelurahan agar tetap berada dalam pengawasan petugas. Adapun di Jakarta Utara, Kelurahan Kapuk Muara menampung warga terdampak di area sekitar masjid setempat.
Pendataan Pengungsi Dilakukan Secara Terkoordinasi
Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BPBD DKI Jakarta, Mohamad Yohan, menjelaskan bahwa angka 1.349 jiwa berasal dari data warga yang mengungsi secara bersama-sama di lokasi yang dapat dijangkau petugas. Dengan pendekatan ini, BPBD mampu mengumpulkan data yang lebih akurat dan terverifikasi.
Lebih lanjut, petugas di lapangan secara aktif mencatat jumlah kepala keluarga, anggota keluarga, serta kebutuhan dasar pengungsi. Oleh sebab itu, pemerintah daerah dapat menyalurkan bantuan logistik, makanan, dan layanan kesehatan secara tepat sasaran.
Kondisi Genangan Masih Terjadi di Ratusan RT
Hingga Jumat malam pukul 20.00 WIB, banjir masih menggenangi 114 RT dan 15 ruas jalan di Jakarta. Ketinggian air pun bervariasi, mulai dari 10 sentimeter hingga mencapai 120 sentimeter di titik terdalam. Kondisi ini terutama terjadi di wilayah dataran rendah dan kawasan yang berdekatan dengan aliran sungai.
Akibat genangan tersebut, aktivitas warga dan mobilitas lalu lintas terganggu. Oleh karena itu, BPBD bersama instansi terkait terus memantau perkembangan situasi dan melakukan langkah penanganan seperti penyedotan air, pengaturan arus lalu lintas, serta pengamanan wilayah terdampak.
Upaya Penanganan dan Layanan Darurat
Selain melakukan pendataan, BPBD DKI Jakarta juga mengerahkan personel untuk membantu proses evakuasi warga yang masih bertahan di rumah. Selanjutnya, petugas memastikan kondisi lokasi pengungsian tetap aman dan layak huni.
Di samping itu, BPBD berkoordinasi dengan kelurahan, RW, dan relawan untuk menyalurkan bantuan dasar. Bantuan tersebut meliputi makanan siap saji, air bersih, perlengkapan tidur, serta layanan kesehatan. Dengan demikian, kebutuhan dasar pengungsi dapat terpenuhi selama masa darurat.
Pentingnya Mitigasi dan Kesiapsiagaan Bencana
Banjir yang memicu pengungsian massal ini menunjukkan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah. Oleh karena itu, upaya mitigasi jangka panjang perlu terus diperkuat. Pemerintah daerah mendorong perbaikan sistem drainase, pengendalian aliran sungai, serta peningkatan kapasitas pompa air di wilayah rawan banjir.
Di sisi lain, masyarakat juga perlu meningkatkan kesadaran terhadap risiko bencana. Edukasi kebencanaan, sistem peringatan dini, dan kesiapan evakuasi menjadi kunci untuk mengurangi dampak banjir di masa mendatang. Dengan kolaborasi yang kuat antara pemerintah dan warga, Jakarta dapat meningkatkan ketahanannya terhadap bencana hidrometeorologi yang kerap berulang.