ATR 42-500 – Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan terus melanjutkan operasi evakuasi kecelakaan pesawat di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Lokasi kejadian berada di wilayah pegunungan yang memiliki karakter medan terjal serta kondisi cuaca yang cepat berubah. Situasi tersebut menuntut perencanaan matang sebelum tim SAR melakukan setiap tahap evakuasi.

Kepala Basarnas, Mohammad Syafii, menyampaikan bahwa tim akan kembali bergerak sejak Senin pagi. Dalam pernyataannya, ia menekankan bahwa keselamatan personel menjadi prioritas utama. Oleh karena itu, setiap keputusan operasional akan selalu menyesuaikan kondisi cuaca dan visibilitas di lapangan.

Tim SAR mengevakuasi korban pesawat ATR 42-500 lewat jalur darat

Foto: Tim SAR menemukan jenazah korban pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung, Pangkep. (dok. istimewa)

Strategi Evakuasi Disusun dengan Pendekatan Adaptif

Basarnas menerapkan strategi evakuasi yang bersifat adaptif untuk menghadapi medan Gunung Bulusaraung. Jalur udara menjadi opsi awal karena mampu memangkas waktu tempuh menuju lokasi. Helikopter Caracal disiagakan untuk mendukung evakuasi dengan teknik hoist, terutama jika pendaratan langsung tidak memungkinkan.

Namun, tim SAR tidak hanya bergantung pada satu metode. Basarnas juga menyiapkan jalur darat sebagai alternatif. Pendekatan ini mengantisipasi potensi gangguan penerbangan akibat kabut tebal atau angin kencang. Tim darat akan bergerak secara bertahap dengan membawa peralatan khusus pendakian dan evakuasi medan ekstrem.

Kombinasi dua jalur ini memberi fleksibilitas bagi tim SAR dalam menentukan langkah paling aman dan efektif.

Fokus Evakuasi Korban dan Bukti Investigasi

Operasi SAR tidak berhenti pada pencarian korban. Basarnas juga menaruh perhatian pada pengamanan serta pengangkatan bagian pesawat yang ditemukan di lokasi kejadian. Material pesawat tersebut memiliki nilai penting bagi proses investigasi kecelakaan.

Basarnas bekerja sama dengan Komite Nasional Keselamatan Transportasi untuk memastikan setiap bagian pesawat yang ditemukan tercatat dan terlindungi. Tim SAR menjaga area temuan agar tidak mengalami gangguan yang dapat memengaruhi hasil penyelidikan.

Langkah ini menunjukkan bahwa operasi SAR tidak hanya berorientasi pada respons darurat, tetapi juga mendukung upaya pencarian penyebab kecelakaan secara menyeluruh.

Kondisi Alam Menentukan Ritme Operasi

Kepala Kantor Basarnas Kelas A Makassar, Muhammad Arif Anwar, yang bertugas sebagai SAR Mission Coordinator, menjelaskan bahwa faktor alam sangat memengaruhi ritme operasi. Curah hujan tinggi, angin yang tidak stabil, dan kabut tebal kerap membatasi ruang gerak tim.

Untuk menjaga keamanan, personel SAR membangun pos sementara di sekitar area temuan. Dari titik tersebut, tim melakukan pengamatan medan, pencatatan lokasi, serta pemantauan cuaca. Keputusan untuk bergerak selalu melalui evaluasi risiko yang ketat.

Pendekatan ini bertujuan mencegah kecelakaan tambahan yang dapat membahayakan personel di lapangan.

Keterlibatan Lintas Instansi dalam Operasi SAR

Operasi di Gunung Bulusaraung melibatkan ribuan personel dari berbagai instansi. Basarnas mengoordinasikan kerja bersama TNI, Polri, pemerintah daerah, unsur potensi SAR, serta relawan. Setiap unsur memiliki tugas spesifik sesuai kemampuan masing-masing.

Selain sumber daya manusia, tim SAR memanfaatkan peralatan komunikasi lapangan untuk menjaga koordinasi. Dukungan logistik juga menjadi perhatian utama mengingat operasi berlangsung di area terpencil dengan akses terbatas.

Kolaborasi lintas sektor ini memperkuat kapasitas tim dalam menghadapi tantangan medan pegunungan.

Latar Belakang Kecelakaan Pesawat

Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport di laporkan kehilangan komunikasi pada Sabtu siang, 17 Januari 2026. Pesawat tersebut terbang menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin sebelum sinyalnya menghilang di wilayah perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkep.

Di dalam pesawat terdapat sepuluh orang, terdiri dari tujuh kru dan tiga penumpang. Tiga penumpang merupakan pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan yang menjalankan tugas dinas. Mereka memiliki latar belakang pekerjaan di bidang pengawasan dan dokumentasi udara.

Sementara itu, kru pesawat dipimpin oleh Captain Andi Dahananto. Tim SAR terus berkoordinasi dengan pihak keluarga dan instansi terkait selama proses evakuasi berlangsung.

Prioritas Keselamatan dan Tanggung Jawab Negara

Basarnas menegaskan komitmen untuk menjalankan operasi dengan standar keselamatan tinggi. Tim memantau cuaca secara berkala dan menyesuaikan strategi lapangan berdasarkan kondisi terbaru. Setiap langkah di ambil melalui pertimbangan teknis dan keselamatan.

Selain itu, operasi ini mencerminkan tanggung jawab negara dalam menangani situasi darurat transportasi udara. Kesiapan personel, peralatan, dan koordinasi lintas instansi menjadi faktor penting dalam menghadapi kejadian di wilayah ekstrem.

Penutup

Operasi evakuasi kecelakaan pesawat di Gunung Bulusaraung menjadi salah satu tantangan besar bagi tim SAR nasional. Medan sulit dan cuaca tidak menentu menuntut strategi yang matang dan fleksibel. Melalui kerja sama lintas instansi serta pendekatan adaptif, Basarnas terus mengupayakan evakuasi korban dan pengamanan bukti investigasi secara aman. Peristiwa ini kembali menegaskan pentingnya kesiapsiagaan nasional dalam menghadapi kecelakaan di wilayah pegunungan Indonesia.