Thailand – baru-baru ini, sebuah video viral memicu perbincangan luas di media sosial. Video tersebut menampilkan keluhan seorang turis asal Filipina terkait kendala komunikasi selama berkunjung ke Thailand. Video itu dengan cepat menarik perhatian publik karena menyentuh isu sensitif tentang bahasa dan budaya.
Turis bernama Ann Berdin mengunggah video tersebut pada Minggu, 11 Januari. Dalam unggahannya, Ann menyampaikan rasa frustrasi karena kesulitan berkomunikasi dengan warga lokal. Menurutnya, kemampuan bahasa Inggris warga Thailand belum memadai untuk membantu wisatawan asing.
Karena pernyataan tersebut, video Ann langsung menyebar luas. Banyak pengguna media sosial memberikan tanggapan beragam. Sebagian warganet merasa tersinggung. Sebagian lain justru menganggap video tersebut sebagai bahan refleksi.

Ilustrasi turis naik Tuk Tuk di Bangkok, Thailand. (REUTERS/Athit Perawongmetha)
Pengalaman Komunikasi Ann Berdin Selama Berlibur
Dalam videonya, Ann menjelaskan bahwa dirinya fasih berbahasa Inggris. Namun, kemampuan tersebut tidak membantunya saat berinteraksi dengan warga Thailand. Ia mengaku kesulitan menyampaikan kebutuhan dasar, termasuk saat menggunakan transportasi daring.
Selain itu, Ann juga menyebut bahwa banyak warga lokal tidak memahami ucapannya. Oleh karena itu, ia sering mengandalkan aplikasi penerjemah. Kondisi ini menurutnya cukup melelahkan selama perjalanan.
Lebih lanjut, Ann menyampaikan keluhannya dengan nada emosional. Ia merasa bahasa Inggris seharusnya membantu komunikasi antarbangsa. Namun, pengalaman pribadinya menunjukkan hal sebaliknya.
Reaksi Warganet terhadap Pernyataan Ann
Setelah video tersebut viral, warganet langsung merespons. Kritik datang tidak hanya dari warga Thailand, tetapi juga dari sesama warga Filipina. Banyak komentar menilai Ann kurang bijak dalam menyampaikan pengalamannya.
Sebagian warganet menekankan pentingnya adaptasi budaya. Mereka mengingatkan bahwa wisatawan perlu menyesuaikan diri dengan negara tujuan. Thailand bukan negara berbahasa Inggris. Oleh karena itu, warga lokal tidak menggunakan bahasa tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, beberapa komentar menyebut pengalaman serupa. Mereka mengaku menggunakan aplikasi penerjemah selama berada di Thailand. Namun, mereka tetap menikmati perjalanan dan menghargai budaya lokal.
Komentar lain juga menyoroti sikap merasa unggul karena kemampuan bahasa Inggris. Menurut warganet, pandangan tersebut dapat memicu kesalahpahaman lintas budaya.
Klarifikasi dan Permintaan Maaf dari Ann Berdin
Setelah menerima banyak kritik, Ann mengunggah video klarifikasi. Ia menyampaikan permintaan maaf kepada warga Thailand. Video tersebut muncul pada Selasa, 13 Januari, melalui akun Facebook pribadinya.
Dalam klarifikasinya, Ann menjelaskan bahwa banyak orang salah menafsirkan maksud videonya. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak berniat menghina Thailand atau warga lokal. Ia hanya ingin berbagi pengalaman pribadi selama berlibur.
Selain itu, Ann juga mengakui keterbatasan dirinya. Ia menyebut bahwa kemampuan bahasa Inggrisnya tidak sempurna. Ia juga mengaku sering menggunakan aplikasi penerjemah. Dengan pernyataan ini, Ann berharap publik dapat memahami sudut pandangnya.
Lebih lanjut, Ann menekankan bahwa ia tidak mengejek siapapun. Ia menyesali pilihan kata yang kurang tepat dalam video sebelumnya. Oleh karena itu, ia berjanji lebih berhati-hati dalam menyampaikan pendapat di masa depan.
Bahasa, Wisata, dan Sensitivitas Budaya
Kasus ini kembali menyoroti pentingnya sensitivitas budaya dalam perjalanan wisata. Bahasa memang berperan penting dalam komunikasi. Namun, bahasa bukan satu-satunya alat untuk membangun hubungan sosial.
Wisatawan perlu memahami konteks budaya negara tujuan. Adaptasi menjadi kunci pengalaman perjalanan yang positif. Selain itu, sikap saling menghormati dapat mengurangi potensi konflik.
Thailand sendiri memiliki kekayaan budaya yang kuat. Warga lokal menggunakan bahasa nasional dalam aktivitas harian. Oleh karena itu, wisatawan asing perlu menyesuaikan ekspektasi mereka.
Kemahiran Bahasa Inggris di Thailand dalam Perspektif Global
Sebagai tambahan informasi, Thailand memiliki tingkat kemahiran bahasa Inggris yang relatif rendah. Data ini berasal dari EF English Proficiency Index tahun 2025. Dalam laporan tersebut, Thailand menempati peringkat ke-116 dari 123 negara.
Posisi tersebut menempatkan Thailand dalam kategori “Kemahiran Sangat Rendah”. Data ini menunjukkan bahwa penggunaan bahasa Inggris belum menjadi kebutuhan utama bagi masyarakat setempat. Oleh karena itu, kondisi ini seharusnya tidak mengejutkan wisatawan.
Refleksi atas Fenomena Viral di Era Digital
Fenomena video Ann menunjukkan kuatnya pengaruh media sosial. Unggahan pribadi dapat berubah menjadi perdebatan publik dalam waktu singkat. Oleh karena itu, setiap individu perlu berhati-hati saat berbagi pengalaman.
Kasus ini juga mengingatkan pentingnya empati lintas budaya. Wisata bukan hanya soal destinasi, tetapi juga soal sikap. Dengan pemahaman yang tepat, perjalanan dapat menjadi pengalaman yang lebih bermakna.
Pada akhirnya, komunikasi lintas budaya membutuhkan keterbukaan dan adaptasi. Dengan sikap tersebut, wisatawan dan masyarakat lokal dapat saling memahami dan menghargai perbedaan.