Banjir – kembali menimbulkan persoalan serius di wilayah Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara. Kali ini, bencana tersebut merusak akses vital menuju area pemakaman. Warga Desa Salube, Kecamatan Loloda Kepulauan, terpaksa menggotong jenazah menyeberangi sungai berarus deras karena jembatan ambruk.

Peristiwa ini menyita perhatian publik setelah sebuah video beredar luas di media sosial sejak Senin, 12 Januari. Dalam rekaman tersebut, warga tampak saling membantu membawa jenazah melewati sungai yang debit airnya meningkat. Situasi ini menunjukkan keterbatasan infrastruktur di wilayah kepulauan.

Sebagai langkah awal, warga memilih cara paling memungkinkan demi menyelesaikan prosesi pemakaman. Mereka tetap melanjutkan perjalanan meski harus menghadapi risiko besar.

kondisi sungai deras di Halmahera Utara setelah jembatan menuju pemakaman ambruk

Foto: Warga Halmahera Utara menggotong jenazah menyeberangi sungai. (dok. istimewa)

Kondisi Lapangan Menunjukkan Keterbatasan Infrastruktur

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Halmahera Utara, Hentje Hetharia, membenarkan kejadian tersebut. Ia menyebut lokasi kejadian berada di Desa Salube, wilayah Loloda Kepulauan. Namun, hingga saat ini, pihak BPBD belum menerima laporan rinci terkait kronologi lengkap peristiwa itu.

Meski begitu, informasi visual dari lapangan memberikan gambaran jelas. Arus sungai tampak deras akibat hujan intensitas tinggi. Selain itu, tidak terdapat jalur alternatif yang aman untuk menuju pemakaman.

Akibat kondisi tersebut, warga harus mengandalkan kekuatan fisik dan kebersamaan. Mereka saling menopang demi menjaga keselamatan jenazah dan rombongan pengantar.

Jembatan Desa Rusak Akibat Terjangan Banjir

Sementara itu, Kepala Bagian Humas Pemerintah Provinsi Maluku Utara, Ailan Goraahe, memberikan penjelasan tambahan. Ia menyampaikan bahwa sebelumnya terdapat jembatan yang menghubungkan desa dengan area pemakaman. Jembatan tersebut berfungsi sebagai akses utama warga.

Namun, banjir besar menghanyutkan jembatan tersebut. Jembatan itu tidak menggunakan konstruksi permanen. Warga membangunnya secara swadaya menggunakan batang kelapa sebagai material utama.

Karena material sederhana, jembatan tersebut tidak mampu menahan derasnya arus air. Akibatnya, akses menuju pemakaman terputus sepenuhnya.

Upaya Desa Terhambat Keterbatasan Anggaran

Lebih lanjut, Ailan menjelaskan rencana awal Pemerintah Desa Salube. Pemerintah desa sebenarnya berniat membangun jembatan permanen di lokasi tersebut. Rencana tersebut bertujuan memberikan akses aman bagi warga, khususnya saat terjadi keadaan darurat.

Namun, pemerintah desa harus menyesuaikan prioritas anggaran. Dana desa yang tersedia akhirnya dialihkan untuk pembangunan koperasi merah putih. Kebijakan ini diambil untuk mendukung penguatan ekonomi masyarakat setempat.

Meskipun memiliki tujuan baik, kebijakan tersebut menimbulkan konsekuensi pada sektor infrastruktur. Desa belum memiliki akses penghubung yang layak menuju pemakaman hingga saat ini.

Dampak Sosial dan Risiko Keselamatan Warga

Kejadian ini menimbulkan dampak sosial yang cukup besar. Warga harus menghadapi situasi emosional sekaligus berisiko tinggi. Proses pemakaman yang seharusnya berjalan khidmat berubah menjadi perjuangan fisik.

Selain itu, kondisi sungai yang deras dapat membahayakan keselamatan warga. Anak-anak, orang lanjut usia, dan perempuan menghadapi risiko lebih besar dalam situasi seperti ini.

Oleh karena itu, kejadian ini membuka diskusi luas tentang pentingnya infrastruktur dasar di wilayah kepulauan. Akses menuju fasilitas umum, termasuk pemakaman, memerlukan perhatian khusus.

Perlunya Perhatian Pemerintah Daerah

Peristiwa di Desa Salube menunjukkan kebutuhan mendesak akan pembangunan infrastruktur yang memadai. Pemerintah daerah perlu menyusun perencanaan jangka panjang yang mempertimbangkan kondisi geografis dan potensi bencana.

Selain itu, koordinasi antara pemerintah desa, kabupaten, dan provinsi perlu diperkuat. Dengan koordinasi yang baik, pembangunan infrastruktur dapat berjalan seimbang dengan program pemberdayaan ekonomi.

Pemerintah juga perlu mempertimbangkan solusi sementara yang lebih aman. Jembatan darurat dengan material yang lebih kuat dapat menjadi alternatif awal sebelum pembangunan permanen.

Penutup

Peristiwa warga Halmahera Utara yang menggotong jenazah menyeberangi sungai deras mencerminkan ketangguhan sekaligus keterbatasan masyarakat kepulauan. Banjir telah merusak akses vital dan memaksa warga mengambil risiko besar demi menjalankan tradisi dan kewajiban sosial.

Melalui kejadian ini, perhatian terhadap pembangunan infrastruktur dasar menjadi semakin penting. Dengan perencanaan yang tepat dan dukungan anggaran yang memadai, pemerintah dapat mencegah kejadian serupa di masa depan. Ke depan, keselamatan dan martabat masyarakat harus menjadi prioritas utama dalam setiap kebijakan pembangunan.