Sedentary Life Style – pekerja kantoran pada masa sekarang menjalankan tugas tanpa hadir langsung di kantor. Teknologi modern memberikan peluang besar untuk menyelesaikan pekerjaan dari lokasi berbeda. Oleh karena itu, metode kerja jarak jauh menjadi pilihan praktis bagi banyak instansi dan perusahaan.

Sebagai contoh, pemerintah Indonesia menerapkan kebijakan penambahan hari libur bagi Aparatur Sipil Negara pada libur Lebaran 2024. Kebijakan tersebut bertujuan mengurangi kepadatan arus balik mudik. Seluruh ASN melaksanakan pekerjaan dari rumah dengan sistem work from home. Dengan demikian, pelayanan publik tetap berjalan meskipun pegawai berada di luar kantor.

Peralatan digital seperti komputer, telepon pintar, dan jaringan internet cepat membantu pekerja menyelesaikan berbagai tanggung jawab. Akibatnya, proses koordinasi menjadi lebih mudah dan lebih efisien. Akses teknologi luas menciptakan kehidupan kerja yang praktis. Selain itu, era digital membawa pola aktivitas baru di perkantoran.

Dulu, pekerja harus melangkah menuju kantin saat jam makan siang tiba. Namun sekarang, aplikasi pemesanan makanan daring hadir sebagai solusi cepat. Maka dari itu, pekerja cukup menekan layar gawai untuk memesan menu favorit. Rasa malas bergerak muncul karena kemudahan tersebut. Ungkapan seperti “mager pesan makanan online saja” menjadi kebiasaan umum di kantor.

sedentary life style pada pekerja kantoran era digital

Ilustrasi bekerja, bercanda bersama teman di kantor. (Photo by Priscilla Du Preez on Unsplash)

Dampak Kebiasaan Minim Aktivitas Fisik

Kegiatan rapat juga mengalami perubahan besar. Rapat tatap muka beralih menjadi rapat daring melalui berbagai platform digital. Akibatnya, pekerja tidak perlu berjalan menuju ruang rapat. Bahkan untuk jarak dekat, sebagian pegawai memilih menggunakan lift daripada naik tangga. Kebiasaan tersebut tampak sederhana, tetapi membawa efek serius bagi kesehatan.

Pembimbing Kesehatan Kerja Ahli Muda Dinas Kesehatan Jawa Barat, Dewi Ratnasari, menjelaskan gaya hidup sedentary life style sebagai pola hidup kurang gerak aktif. Pekerja kantoran menjadi kelompok paling rentan terhadap kebiasaan ini. Menurut hasil Riskesdas 2018, persentase kurang aktivitas fisik mencapai 36,5 persen pada ASN, BUMN, BUMD, dan 34,3 persen pada pegawai swasta. Selain itu, kelompok pekerjaan tersebut memiliki persentase tertinggi kasus diabetes melitus.

Dewi menekankan dua faktor utama dalam masalah sedentary life style pada pekerja. Pertama, pekerja melakukan aktivitas dengan posisi duduk terlalu lama. Kedua, pekerja menerapkan pola makan tidak sehat. Kebiasaan konsumsi minim buah dan sayur serta asupan tinggi karbohidrat, garam, gula, dan lemak meningkatkan risiko obesitas dan hipertensi. Kombinasi dua poin tersebut menjadi penyebab berbagai penyakit degeneratif.

Masalah kesehatan pada pekerja berdampak langsung terhadap individu. Namun lebih jauh lagi, kondisi tersebut menurunkan produktivitas kerja. Absensi meningkat, kinerja menurun, dan biaya kesehatan membengkak. Oleh sebab itu, perusahaan harus menyadari bahaya ini sejak dini.

Strategi Perusahaan Melawan Sedentary Life Style

Pekerja merupakan investasi penting bagi perusahaan. Maka dari itu, perusahaan memerlukan pegawai yang sehat, bugar, dan produktif. Dewi mengingatkan bahwa peran perusahaan sangat besar dalam melawan gaya hidup kurang gerak. Komitmen kuat dari perusahaan menjadi langkah awal yang krusial.

Pertama, perusahaan menjalankan skrining kesehatan rutin dan pengukuran kebugaran jasmani secara berkala. Deteksi dini membantu pekerja mencegah penyakit sejak awal. Program skrining dilakukan per semester atau tahunan. Dengan demikian, pekerja memperoleh pemahaman kondisi tubuh secara jelas.

Kedua, perusahaan menerapkan kebijakan penyediaan makanan dan snack rapat yang sehat. Menu rapat memperbanyak buah dan sayur. Selain itu, kantin kantor menjual makanan rendah minyak, gula, dan garam. Kebijakan ini, pada akhirnya, membantu pekerja membentuk pola makan lebih baik.

Ketiga, perusahaan menetapkan aturan penggunaan lift. Biaya listrik lift di kantor cukup besar. Oleh karena itu, efisiensi penggunaan lift membantu perusahaan sekaligus meningkatkan aktivitas fisik pekerja. Lift dipergunakan hanya untuk pegawai pra lansia, lansia, atau pekerja dengan keterbatasan kesehatan. Sementara itu, pegawai dengan tujuan satu lantai wajib menggunakan tangga.

Keempat, senam peregangan dilakukan setiap dua jam sekali di kantor. Kegiatan peregangan mengurangi kekakuan otot tubuh. Selain itu, aktivitas ini meningkatkan konsentrasi dan semangat kerja kembali. Program kesehatan sederhana ini membawa dampak signifikan.

Program Inovatif untuk Peningkatan Kebugaran Pekerja

Selanjutnya, perusahaan mengimplementasikan Program Jumsihat atau Jumat Bersih dan Sehat. Setiap hari Jumat, seluruh pekerja membersihkan ruangan masing-masing. Selain itu, pekerja melakukan kegiatan olahraga sesuai minat dan tingkat kebugaran. Dengan demikian, kebiasaan aktif terbentuk di lingkungan kantor.

Olahraga rutin tidak hanya dilakukan pada hari kerja. Pekerja juga harus menerapkan aktivitas fisik dalam kehidupan sehari-hari. Akibatnya, kelompok-kelompok olahraga muncul secara alami di kantor. Kebiasaan positif ini membentuk budaya kerja sehat.

Monitoring dan evaluasi program kesehatan kerja dilakukan perusahaan secara berkelanjutan. Dewi menekankan penggunaan form ceklist serta diskusi aktif dengan pekerja untuk proses evaluasi. Dengan demikian, inovasi baru muncul untuk pelaksanaan program ke depan.

Kesadaran Baru Menuju Lingkungan Kerja Sehat

Pekerja yang sehat, bugar, dan produktif merupakan aset berharga bagi perusahaan. Oleh sebab itu, istilah mager harus dihindari demi kebugaran tubuh. Teknologi canggih membantu pekerjaan, tetapi tidak boleh menjadi alasan untuk malas bergerak.

Perusahaan harus mengambil langkah nyata untuk melawan sedentary life style di tempat kerja. Pada akhirnya, lingkungan kerja sehat meningkatkan citra perusahaan dan keuntungan institusi. Kesadaran bersama antara pekerja dan perusahaan menjadi kunci utama dalam menciptakan kualitas hidup kerja yang lebih baik.