Angklung Robotik Bandung menghadirkan cara berbeda dalam menikmati salah satu instrumen tradisional khas Sunda. Inovasi karya Arief Fazariansyah bersama Ferdy Seniman Angin dan Arul tersebut menggabungkan karakter suara bambu dengan perangkat mekanik serta sistem kendali digital. Hasilnya, rangkaian angklung dapat bergerak dan memainkan komposisi musik tanpa mengandalkan gerakan tangan pemain pada setiap nada.
Inovasi ini tetap mempertahankan bambu sebagai sumber suara utama. Tim pengembang tidak mengganti karakter dasar instrumen tersebut dengan suara elektronik. Sebaliknya, mereka membuat sistem yang mampu menggerakkan setiap angklung sesuai kebutuhan sebuah komposisi.
Ketika perangkat mulai menjalankan program, sejumlah angklung bergerak mengikuti perintah yang sudah tersusun. Gerakan itu kemudian menghasilkan rangkaian nada hingga membentuk lagu.
Berawal dari Sistem Musik Telolet
Arief dan tim mulai mengembangkan gagasan tersebut pada 2024. Menariknya, mereka tidak mendapatkan inspirasi awal dari pertunjukan angklung konvensional. Pengalaman mereka mengembangkan musik telolet justru membuka jalan menuju eksperimen baru ini.
Mereka melihat sistem pada telolet memiliki peluang untuk diterapkan pada instrumen tradisional. Setelah mempelajari sejumlah pilihan, tim menilai angklung mempunyai pola kerja yang cukup sesuai dengan konsep mekanik yang mereka kuasai.
Dari titik tersebut, mereka mulai melakukan berbagai eksperimen. Proses pengembangan berlangsung sekitar dua tahun hingga menghasilkan bentuk yang mereka anggap matang pada 2026.
Rentang waktu tersebut menunjukkan bahwa tim tidak sekadar memasangkan motor penggerak pada instrumen bambu. Mereka harus mencari mekanisme yang mampu menghasilkan gerakan akurat sekaligus mempertahankan karakter suara angklung.
Dinamo Menggerakkan Setiap Angklung
Angklung Robotik Bandung menggunakan dinamo sebagai salah satu komponen utama sistem penggeraknya. Tim kemudian menghubungkan dinamo dengan puli serta as dorong untuk menciptakan gerakan pada setiap instrumen.
Mekanisme tersebut memungkinkan sistem mengatur kapan sebuah angklung harus bergerak. Dengan pengaturan yang tepat, rangkaian instrumen dapat menghasilkan nada sesuai susunan musik yang telah diprogram.
Pengguna memiliki dua pilihan untuk mengoperasikannya. Pertama, pemain dapat menggunakan keyboard untuk mengendalikan nada secara manual. Kedua, modul controller dapat menjalankan komposisi yang sudah tersimpan secara otomatis.
Pilihan kedua menjadi salah satu bagian penting dari inovasi ini. Modul tersebut mampu mengatur banyak unsur musik sekaligus, mulai dari melodi, ritme, variasi nada hingga bagian bass. Karena itu, sistem dapat membawakan satu aransemen secara lengkap tanpa seseorang harus menggoyangkan angklung satu per satu.

Angklung robotik.
File MIDI Mengatur Susunan Musik
Tim memanfaatkan MIDI untuk mengatur permainan Angklung Robotik Bandung. Teknologi yang umum dalam produksi musik digital tersebut memberikan instruksi kepada sistem mengenai nada dan pola permainan yang harus muncul.
Meski konsep pengendalian digital terdengar sederhana, tim menghadapi persoalan yang lebih rumit pada mekanisme fisiknya. Mereka perlu memastikan bambu tetap mengeluarkan suara ketika sistem hanya memberikan gerakan dalam durasi sangat singkat.
Masalah tersebut terutama muncul ketika mereka mencoba memainkan teknik staccato. Teknik ini membutuhkan nada pendek dan terputus dengan tempo tertentu. Sementara itu, karakter permainan angklung umumnya mengandalkan gerakan yang menghasilkan getaran lebih panjang.
Karena alasan tersebut, tim menghabiskan banyak waktu untuk menghitung dan menguji respons mekanik. Mereka harus menentukan gerakan yang cukup singkat tetapi tetap memiliki tenaga untuk menghasilkan suara secara jelas.
Setelah melalui berbagai percobaan, tim kemudian menyesuaikan program agar sistem mampu menangani pola nada pendek. Pengembangan bagian ini menjadi salah satu tahapan yang membutuhkan riset cukup panjang.
Memesan Angklung dengan Tangga Nada Khusus
Eksperimen tidak berhenti pada perangkat mekanik dan perangkat lunak. Tim juga membutuhkan susunan nada yang lebih fleksibel untuk memperluas pilihan aransemen.
Mereka kemudian menggandeng perajin untuk membuat angklung sesuai spesifikasi yang dibutuhkan. Perajin tersebut menghasilkan instrumen dengan susunan tangga nada yang berbeda dari perangkat angklung konvensional pada umumnya.
Tim juga memasukkan beberapa nada minor ke dalam konfigurasi tersebut. Penambahan ini memberikan ruang lebih luas bagi mereka ketika menyusun musik. Dengan demikian, sistem tidak hanya cocok untuk komposisi tertentu, tetapi juga dapat menjangkau karakter lagu yang lebih beragam.
Pendekatan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa teknologi digital tidak bekerja sendirian. Keahlian perajin bambu tetap memegang peran penting karena kualitas instrumen menentukan karakter suara yang muncul.
Teknologi Bukan untuk Menggantikan Pemain Tradisional
Kehadiran angklung yang mampu bermain secara otomatis tentu dapat memunculkan perdebatan. Sebagian orang mungkin mempertanyakan masa depan pemain angklung ketika mesin sudah mampu menggerakkan instrumen dan membawakan lagu.
Arief memahami kekhawatiran tersebut. Namun, ia menegaskan bahwa tim tidak mengembangkan teknologi ini untuk menghilangkan pola permainan tradisional atau menggantikan manusia.
Sebaliknya, mereka ingin membuka peluang kolaborasi antara pendekatan konvensional dan teknologi modern. Salah satu konsep yang mereka bayangkan ialah mempertemukan pemain angklung tradisional dengan perangkat robotik dalam satu pertunjukan.
Konsep tersebut dapat menciptakan format panggung baru. Pemain tetap membawa unsur ekspresi manusia, sedangkan sistem robotik dapat memperluas kemungkinan aransemen dan eksplorasi musikal.
Membawa Angklung Memasuki Ruang Eksplorasi Baru
Angklung Robotik Bandung memperlihatkan salah satu cara teknologi dapat bertemu dengan warisan budaya tanpa harus menghapus karakter dasarnya. Bambu tetap menghasilkan suara, perajin tetap berkontribusi dalam pembuatan instrumen, sementara teknologi membantu mengembangkan cara baru untuk memainkannya.
Eksperimen yang bermula dari musik telolet itu kini berkembang menjadi perangkat yang menggabungkan dinamo, puli, as dorong, MIDI, keyboard, dan modul pengendali. Seluruh komponen tersebut bekerja bersama untuk menggerakkan instrumen tradisional dalam format berbeda.
Pada akhirnya, inovasi ini tidak harus menempatkan tradisi dan teknologi pada dua sisi yang saling berlawanan. Arief bersama tim justru ingin mempertemukan keduanya.
Melalui kolaborasi tersebut, mereka berharap angklung tetap mempertahankan identitas budayanya sekaligus memperoleh ruang untuk berkembang mengikuti perubahan zaman. Bahkan, perpaduan pemain tradisional dengan sistem robotik berpotensi menghadirkan pengalaman musikal baru tanpa menghilangkan suara khas bambu yang selama ini melekat pada angklung.