Bisnis F&B Singapura menghadapi tekanan yang semakin berat sepanjang 2026. Lonjakan biaya operasional, harga bahan baku, upah pekerja, hingga mahalnya sewa tempat membuat ribuan pelaku usaha makanan dan minuman menghentikan kegiatan mereka.

Data Accounting and Corporate Regulatory Authority (ACRA) menunjukkan sebanyak 2.101 bisnis kuliner berhenti beroperasi sepanjang Januari hingga Juli 2026. Mengutip laporan VnExpress pada Sabtu (29/8/2026), jumlah tersebut meningkat 25,1 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Angka itu memperlihatkan besarnya tantangan yang sedang menghadang industri kuliner Singapura. Kondisi tersebut terutama memberi tekanan kepada restoran, kafe, toko makanan, dan bisnis independen yang mengandalkan margin keuntungan relatif tipis.

Sejumlah merek yang sebelumnya cukup dikenal konsumen juga tidak mampu menghindari tekanan tersebut. Lou Shang, misalnya, mengakhiri operasional kafe sekaligus barnya pada Selasa (14/7/2026).

Selain Lou Shang, beberapa bisnis populer lainnya ikut meninggalkan pasar. Daftar tersebut mencakup gerai gelato lokal Tom’s Palette, kafe bernuansa Swedia Fika, serta toko kue Pantler yang sebelumnya menarik perhatian pencinta pastry di Singapura.

Biaya Operasional Menekan Pelaku Bisnis F&B Singapura

Kondisi industri makanan dan minuman Singapura menunjukkan bahwa popularitas sebuah merek belum tentu mampu menjamin kelangsungan bisnis. Para pengusaha harus menghadapi berbagai pengeluaran yang terus bertambah, sedangkan mereka tidak selalu dapat menaikkan harga jual secara leluasa.

Laporan The Straits Times pada Kamis (27/8/2026) menyoroti biaya bahan baku, gaji karyawan, dan sewa lokasi sebagai beberapa tekanan utama yang harus ditanggung pelaku usaha.

Pendiri Pantler, Matthias Phua, juga mengungkapkan beratnya situasi tersebut. Menurut Phua, tekanan yang ia hadapi tidak jauh berbeda dengan persoalan yang dialami banyak operator independen lainnya.

Situasi tersebut menjadi semakin menarik karena sektor pariwisata Singapura telah pulih setelah pandemi Covid-19. Secara teori, meningkatnya aktivitas wisata dapat memberikan tambahan konsumen bagi restoran, kafe, dan berbagai usaha kuliner.

Namun, pelaku bisnis menghadapi tantangan lain dari perilaku konsumen lokal. Menguatnya mata uang Singapura mendorong sebagian warga memilih bepergian ke luar negeri ketika memiliki waktu libur.

Akibatnya, sebagian masyarakat menghabiskan libur sekolah maupun akhir pekan panjang di negara lain. Kebiasaan tersebut ikut mengurangi peluang pengeluaran konsumen di dalam negeri, termasuk untuk makan, minum, dan berbelanja.

bisnis F&B Singapura

Street food di Singapura.

Harga Sewa Ruko Melonjak Tajam

Sewa tempat menjadi salah satu persoalan terbesar yang membebani bisnis F&B Singapura. Tekanan tersebut semakin terasa di kawasan populer yang selama ini menjadi pusat wisata, kuliner, dan aktivitas komersial.

Kampong Glam menjadi salah satu contohnya. Kawasan yang terkenal dengan restoran, kedai kopi, toko, dan berbagai usaha kreatif tersebut mengalami kenaikan harga sewa ruko dalam beberapa tahun terakhir.

Haji Lane bahkan menunjukkan gambaran yang lebih ekstrem. Berdasarkan laporan Channel News Asia, sejumlah penyewa menyebut biaya sewa ruko yang sebelumnya berkisar 3.000 dollar Singapura atau sekitar Rp 41,9 juta setiap bulan kini hampir menyentuh 10.000 dollar Singapura.

Jika menggunakan nilai konversi dalam laporan tersebut, biaya itu setara sekitar Rp 139,5 juta per bulan. Dengan demikian, sebagian penyewa harus menyediakan biaya lebih dari tiga kali lipat dibandingkan harga sewa sebelumnya untuk mempertahankan lokasi bisnis mereka.

Lonjakan tersebut menjadi masalah serius bagi usaha yang hanya menghasilkan margin keuntungan terbatas. Pelaku bisnis harus tetap membayar karyawan, membeli bahan makanan, menanggung utilitas, serta memenuhi berbagai kebutuhan operasional lainnya.

Ketika pendapatan tidak tumbuh secepat pengeluaran, pemilik usaha akhirnya menghadapi pilihan sulit antara berpindah lokasi, menaikkan harga, mengurangi biaya, atau menghentikan bisnis.

Ribuan Bisnis Kuliner Baru Tetap Bermunculan

Meskipun ribuan usaha menghentikan kegiatan, industri kuliner Singapura tetap menarik minat pengusaha baru. Data ACRA mencatat 2.594 bisnis F&B baru masuk dalam daftar perusahaan sepanjang tujuh bulan pertama 2026.

Jumlah tersebut bahkan melampaui angka bisnis yang tutup pada periode yang sama. Data ini menunjukkan dinamika industri yang cukup unik. Di satu sisi, banyak pemain lama kesulitan mempertahankan operasional. Di sisi lain, pengusaha baru masih melihat potensi pasar yang menjanjikan.

Beberapa merek dari Jepang dan Korea ikut meramaikan persaingan. Nama-nama seperti Hikiniku To Come dan jaringan yakitori Torikizoku dari Jepang menjadi bagian dari pendatang baru yang menarik perhatian konsumen.

Sementara itu, sektor kuliner Korea menghadirkan pemain seperti Jiho Samgyetang SBCD dan Bibim Deli. Kehadiran berbagai konsep baru tersebut menunjukkan bahwa pasar Singapura masih memiliki daya tarik bagi bisnis kuliner, termasuk merek internasional.

Tren Penutupan Sudah Terjadi Sejak 2024

Tekanan terhadap bisnis F&B Singapura sebenarnya tidak hanya muncul pada 2026. Data beberapa tahun terakhir memperlihatkan bahwa jumlah usaha yang menghentikan kegiatan sudah berada pada level tinggi.

Sepanjang 2024, tercatat 3.047 bisnis makanan berhenti beroperasi. Angka itu kemudian meningkat menjadi 3.148 bisnis sepanjang 2025.

Sementara itu, hanya dalam periode Januari-Juli 2026, jumlah penutupan sudah mencapai 2.101 usaha. Angka tersebut naik 25,1 persen jika di bandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Kondisi ini memperlihatkan persaingan industri kuliner Singapura yang semakin ketat. Pemilik bisnis tidak hanya perlu menarik pelanggan, tetapi juga harus mengelola kenaikan sewa, biaya tenaga kerja, bahan baku, dan perubahan kebiasaan konsumen.

Di tengah tekanan tersebut, kemunculan 2.594 bisnis F&B baru selama tujuh bulan pertama 2026 memperlihatkan bahwa peluang belum sepenuhnya menghilang. Namun, tingginya jumlah usaha yang tutup sekaligus menjadi peringatan bahwa pelaku bisnis memerlukan pengelolaan biaya, konsep yang kuat, serta strategi jangka panjang agar mampu bertahan di pasar kuliner Singapura.