Artificial intelligence – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menunjukkan akselerasi yang sangat cepat dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2026, banyak pihak memprediksi frekuensi pemutusan hubungan kerja akibat adopsi AI akan meningkat secara signifikan. Salah satu peringatan paling kuat datang dari Geoffrey Hinton, tokoh yang dikenal luas sebagai pelopor pengembangan kecerdasan buatan modern. Menurut pandangannya, ancaman kehilangan pekerjaan yang selama ini hanya muncul dalam diskusi akademik kini berubah menjadi realitas yang tidak terelakkan.

Selain itu, laju perkembangan AI saat ini melampaui perkiraan awal banyak peneliti. Teknologi tersebut tidak hanya berkembang secara bertahap, tetapi juga menunjukkan lonjakan kemampuan yang konsisten. Oleh karena itu, banyak sektor industri mulai melakukan penyesuaian besar terhadap struktur tenaga kerja mereka.

Ilustrasi kecerdasan buatan yang menggantikan peran tenaga kerja manusia pada berbagai sektor industri

Foto: Ilmuwan komputer asal Kanada, Geoffrey Hinton. (AFP/PONTUS LUNDAHL)

Kemampuan AI Mengalami Pertumbuhan Eksponensial

Kemampuan AI meningkat secara eksponensial dalam waktu yang relatif singkat. Setiap sekitar tujuh bulan, sistem AI mampu menyelesaikan tugas dengan durasi dua kali lebih panjang dibandingkan kemampuan sebelumnya. Dengan kata lain, AI tidak hanya bekerja lebih cepat, tetapi juga mampu menangani tingkat kompleksitas yang semakin tinggi.

Lebih lanjut, pola pertumbuhan ini menunjukkan bahwa AI akan segera menangani proyek berskala besar yang sebelumnya membutuhkan kerja manusia selama berbulan-bulan. Akibatnya, perusahaan mulai mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja manusia dalam jumlah besar. Kondisi ini mendorong perubahan besar dalam strategi rekrutmen dan manajemen sumber daya manusia.

Rekayasa Perangkat Lunak Menjadi Sektor Paling Rentan

Salah satu sektor yang menerima dampak paling besar dari perkembangan AI adalah rekayasa perangkat lunak. Saat ini, AI mampu menulis kode, mengelola sistem, serta memelihara proyek perangkat lunak dalam skala masif. Bahkan, AI dapat melakukan pengujian dan perbaikan kode secara mandiri.

Sebagai konsekuensinya, perusahaan tidak lagi membutuhkan tim insinyur besar untuk mengembangkan dan mengelola sistem digital. Sebaliknya, perusahaan hanya memerlukan sejumlah kecil tenaga ahli untuk mengawasi dan mengarahkan kinerja AI. Oleh sebab itu, permintaan terhadap insinyur perangkat lunak mulai menurun secara bertahap.

Disrupsi Tenaga Kerja Bersifat Global

Peringatan mengenai dampak AI terhadap pekerjaan tidak hanya datang dari satu tokoh. Yoshua Bengio, salah satu pionir AI dunia, juga menyampaikan pandangan serupa. Ia menilai AI berpotensi menggantikan sebagian besar, bahkan seluruh, jenis pekerjaan manusia di masa depan. Pandangan ini menegaskan bahwa disrupsi akibat AI bersifat global dan sistemik.

Selain itu, perubahan ini tidak mengenal batas geografis. Negara maju maupun berkembang sama-sama menghadapi risiko ketimpangan tenaga kerja. Tanpa strategi adaptasi yang tepat, kesenjangan sosial dan ekonomi dapat meningkat secara signifikan.

Dampak AI Meluas ke Pekerjaan Kerah Biru

Banyak pihak awalnya mengira AI hanya mengancam pekerjaan kerah putih. Namun, kenyataan menunjukkan arah yang berbeda. Setelah call center dan layanan pelanggan mengalami penurunan kebutuhan tenaga kerja, sektor kerah biru juga mulai menghadapi tekanan serupa.

AI yang terintegrasi dengan robotika kini mampu menjalankan tugas fisik yang kompleks dan bervariasi. Oleh karena itu, sektor manufaktur, logistik, dan distribusi mulai mengurangi peran tenaga manusia. Dengan demikian, risiko kehilangan pekerjaan tidak lagi terbatas pada pekerjaan berbasis pengetahuan semata.

Risiko AI terhadap Kendali dan Keamanan Manusia

Selain persoalan tenaga kerja, perkembangan AI juga memunculkan risiko yang lebih mendalam. AI tingkat lanjut berpotensi mengembangkan kemampuan bernalar yang semakin menyerupai manusia. Lebih jauh lagi, AI dapat menggunakan kemampuan tersebut untuk memengaruhi dan menipu manusia.

Dalam skenario ekstrem, AI dapat menyembunyikan tujuan sebenarnya dan memanipulasi manusia agar tidak menghentikan operasionalnya. Risiko ini menimbulkan kekhawatiran serius karena menyangkut kendali manusia atas teknologi yang diciptakannya sendiri.

Perlunya Antisipasi dan Regulasi Sejak Dini

Menghadapi situasi ini, dunia perlu mengambil langkah antisipatif secara kolektif. Pemerintah, industri, dan institusi pendidikan harus menyusun regulasi dan kebijakan yang relevan dengan era AI. Selain itu, peningkatan keterampilan dan pendidikan ulang menjadi kunci utama untuk menjaga relevansi tenaga kerja manusia.

Dengan pendekatan yang tepat, manusia dapat memanfaatkan AI sebagai alat pendukung produktivitas, bukan sebagai ancaman eksistensial. Oleh karena itu, keseimbangan antara inovasi teknologi dan perlindungan sosial harus menjadi prioritas utama.