Houthi Dan Arab Saudi – kembali memanas setelah kedua pihak terlibat aksi militer yang menargetkan fasilitas penerbangan. Perkembangan terbaru ini memicu kekhawatiran bahwa Yaman berpotensi kembali memasuki fase konflik bersenjata yang lebih intens, meskipun gencatan senjata sejak 2022 sempat meredakan pertempuran dalam beberapa tahun terakhir.
Insiden yang terjadi dalam waktu berdekatan tersebut menjadi sinyal bahwa stabilitas keamanan di Yaman masih belum benar-benar pulih. Selain berdampak terhadap kondisi domestik, meningkatnya ketegangan juga di nilai dapat memengaruhi keamanan kawasan Timur Tengah yang hingga kini masih di warnai berbagai konflik.
Serangan terhadap Bandara Memperburuk Situasi
Ketegangan meningkat ketika kelompok Houthi meluncurkan serangan menggunakan rudal dan pesawat nirawak yang di arahkan ke Bandara Internasional Abha di Arab Saudi. Aksi tersebut di sebut sebagai respons atas dugaan serangan udara yang sebelumnya menghantam Bandara Internasional Sanaa di Yaman.
Kelompok Houthi menuduh Arab Saudi berada di balik serangan terhadap bandara di ibu kota Yaman. Meski tidak ada laporan korban jiwa, aksi saling serang itu menjadi salah satu insiden paling serius sejak kedua pihak menghentikan pertempuran berskala besar beberapa tahun lalu.
Yaman sendiri masih menghadapi proses pemulihan yang panjang akibat perang saudara yang berlangsung sejak 2014. Konflik tersebut telah menyebabkan kerusakan luas pada infrastruktur, memperburuk kondisi ekonomi, memecah wilayah kekuasaan. Serta memicu krisis kemanusiaan yang berdampak pada jutaan warga.
Perselisihan Dipicu Kontroversi Penerbangan Iran
Pemicu ketegangan terbaru berkaitan dengan penerbangan dari Iran menuju Yaman. Houthi mengeklaim bahwa Arab Saudi berupaya menghalangi pesawat Iran yang membawa delegasi mereka ke Teheran untuk menghadiri prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei.
Menurut kelompok tersebut, saat pesawat hendak kembali ke Yaman, Bandara Internasional Sanaa menjadi sasaran serangan. Sehingga pesawat tidak dapat mendarat sesuai rencana. Pesawat akhirnya di alihkan ke bandara lain dan berhasil mendarat tanpa kendala.
Pemerintah Arab Saudi belum menyampaikan pernyataan resmi mengenai tuduhan tersebut. Di sisi lain, Ketua Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman, Rashad al-Alimi, menyatakan bahwa pemerintah yang di akui secara internasional. Sebelumnya tidak memberikan persetujuan atas kepulangan delegasi Houthi melalui penerbangan tersebut.
Ia menilai operasional penerbangan itu tidak sesuai dengan aturan penerbangan sipil yang berlaku dan di anggap mengabaikan aspek kedaulatan negara.
Sebagai respons, juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menegaskan bahwa kelompoknya siap mengambil langkah balasan apabila wilayah udara Yaman kembali menjadi sasaran.
Selain itu, Houthi juga mengklaim berhasil menjatuhkan sebuah pesawat pengintai milik Arab Saudi di wilayah Al Bayda. Hingga kini belum ada konfirmasi independen terkait klaim tersebut.

Arab Saudi Bom Pelabuhan Mukalla Yaman. Langkah ini menandai keretakan terdalam antara Riyadh dan Abu Dhabi yang selama ini menjadi sekutu utama dalam melawan pemberontak Houthi
Perebutan Kendali Wilayah Udara Dinilai Jadi Faktor Utama
Sejumlah pengamat menilai bahwa konflik terbaru tidak hanya di picu oleh persoalan penerbangan Iran. Perselisihan juga berkaitan dengan upaya masing-masing pihak mempertahankan pengaruh atas ruang udara Yaman.
Analis dari International Crisis Group, Ahmed Nagi, berpendapat bahwa Arab Saudi bersama pemerintah Yaman memandang pembukaan jalur penerbangan langsung dari Iran. Sebagai langkah yang dapat memperkuat posisi politik Houthi.
Sejak koalisi pimpinan Arab Saudi melakukan intervensi militer pada 2015. Akses udara dan laut menuju wilayah yang di kuasai Houthi berada di bawah pengawasan ketat. Karena itu, setiap perubahan kebijakan penerbangan di nilai memiliki konsekuensi strategis.
Nagi menilai keberhasilan Houthi membuka jalur penerbangan internasional tanpa persetujuan pihak koalisi dapat menjadi preseden yang mendorong kelompok tersebut. Mengambil langkah politik maupun militer yang lebih berani.
Pandangan serupa di sampaikan peneliti Chatham House, Farea al-Muslimi. Menurutnya, Arab Saudi selama ini berupaya menghindari eskalasi langsung dengan Iran. Namun, apabila kepentingan strategis Riyadh di Yaman di anggap terganggu, respons yang lebih tegas tetap berpeluang terjadi.
Ancaman Perang Baru Masih Membayangi
Pengamat politik Yaman, Abdel-Bari Taher, menilai kondisi keamanan dan ekonomi negara itu masih sangat rentan sehingga peluang munculnya konflik baru tetap terbuka. Fragmentasi kelompok bersenjata serta lemahnya pengawasan terhadap wilayah laut dan udara membuat situasi semakin kompleks.
Dalam beberapa tahun terakhir, Houthi juga beberapa kali melancarkan serangan rudal ke wilayah Israel serta menyerang kapal-kapal yang melintas di Laut Merah. Serangkaian aksi tersebut turut memengaruhi jalur perdagangan internasional dan memperbesar ketegangan geopolitik di kawasan.
Sejumlah analis menilai hubungan Iran dengan Houthi berpotensi di manfaatkan sebagai instrumen untuk memperkuat posisi di plomatik Teheran dalam berbagai pembahasan internasional, termasuk dengan Amerika Serikat.
Dengan meningkatnya ketegangan di sejumlah titik strategis Timur Tengah, termasuk kawasan Selat Hormuz, masa depan gencatan senjata di Yaman kembali di pertanyakan. Jika eskalasi terus berlanjut tanpa adanya langkah diplomasi. Konflik yang selama ini mereda berisiko kembali berubah menjadi perang terbuka dengan dampak yang lebih luas bagi kawasan.