Perkembangan teknologi berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan besar di berbagai bidang, termasuk dunia seni. Kemampuan AI dalam menghasilkan gambar, desain, hingga karya visual dalam waktu singkat memunculkan berbagai perdebatan mengenai peran manusia sebagai kreator. Menyikapi fenomena tersebut, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta menghadirkan pameran seni internasional bertajuk Post-Machine Algorithm sebagai ruang refleksi mengenai hubungan antara manusia, kreativitas, dan teknologi.

Pameran yang digelar di Galeri RJ Katamsi ISI Yogyakarta ini menghadirkan ratusan karya dari berbagai disiplin seni. Melalui kegiatan tersebut, ISI Yogyakarta ingin menunjukkan bahwa meskipun AI berkembang sangat pesat, kreativitas manusia tetap menjadi unsur utama yang tidak dapat sepenuhnya di gantikan oleh mesin.

Pameran Menjadi Ruang Dialog antara Seni dan Kecerdasan Buatan

Rektor ISI Yogyakarta, Irwandi, menjelaskan bahwa penyelenggaraan pameran ini merupakan bentuk respons akademik sekaligus artistik terhadap kemajuan teknologi AI yang semakin memengaruhi proses penciptaan karya seni.

Menurutnya, sebagian besar karya yang di pamerkan menampilkan eksplorasi gagasan mengenai hubungan manusia dengan teknologi. Walaupun AI mampu membantu menghasilkan berbagai bentuk visual, sumber kreativitas tetap berasal dari manusia sebagai pencipta ide.

Ia menilai teknologi kecerdasan buatan seharusnya di pahami sebagai alat pendukung dalam proses berkarya, bukan sebagai pengganti seniman. Oleh karena itu, berbagai karya yang di tampilkan mencoba memperlihatkan bagaimana ide, pengalaman, serta intuisi manusia masih menjadi fondasi utama dalam menghasilkan karya yang memiliki nilai artistik.

Selain menjadi ajang pameran, kegiatan ini juga di harapkan mampu membuka ruang diskusi mengenai masa depan seni di tengah perkembangan teknologi digital yang berlangsung sangat cepat.

Ragam Karya Menunjukkan Kesiapan Seniman Menghadapi Perubahan

Pameran Post-Machine Algorithm menghadirkan beragam medium seni, mulai dari seni rupa, kriya, desain, instalasi, hingga karya audio visual. Keberagaman tersebut memperlihatkan bahwa para seniman tidak hanya mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga mampu mengolahnya menjadi bagian dari proses kreatif.

Menurut Irwandi, variasi karya yang di pamerkan menjadi bukti bahwa dunia seni memiliki kemampuan beradaptasi terhadap perubahan zaman. Kehadiran AI justru membuka peluang eksplorasi baru tanpa menghilangkan identitas manusia sebagai pencipta utama.

Berbagai pendekatan artistik yang di tampilkan memperlihatkan bagaimana teknologi dapat digunakan sebagai sarana memperluas kemungkinan visual maupun konsep dalam berkarya. Dengan demikian, AI tidak di posisikan sebagai ancaman, melainkan sebagai salah satu instrumen yang dapat di manfaatkan secara bijaksana.

Pameran Post-Machine Algorithm di Galeri RJ Katamsi ISI Yogyakarta

Suasana pameran bertaraf internasional bertajuk Post-machine Algorithm di Galeri R.J. Katamsi, ISI Jogja, Sewon, Bantul, Minggu (21/6/2026).

AI Dimanfaatkan sebagai Sarana Brainstorming dalam Pembelajaran

Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Yogyakarta, Muhammad Sholahuddin, menjelaskan bahwa perkembangan AI juga telah di integrasikan ke dalam proses pembelajaran di lingkungan kampus.

Mahasiswa dari sejumlah program studi, termasuk Desain Interior, mulai di kenalkan dengan penggunaan AI sebagai media brainstorming atau pencarian ide pada tahap awal perancangan karya. Teknologi tersebut membantu mahasiswa memperoleh berbagai alternatif konsep yang kemudian di kembangkan kembali melalui proses kreatif secara mandiri.

Setelah memperoleh referensi dari platform berbasis AI, mahasiswa melanjutkan proses eksplorasi menggunakan berbagai prompt yang lebih spesifik. Hasil tersebut kemudian di kembangkan melalui aplikasi visual seperti Dreamina maupun Gemini untuk menghasilkan rendering yang lebih optimal.

Meski demikian, Sholahuddin menegaskan bahwa AI hanya berfungsi sebagai alat bantu. Seluruh keputusan kreatif, mulai dari penyusunan konsep, pengembangan ide, hingga penyelesaian karya tetap berada di tangan mahasiswa sebagai pencipta.

Pendekatan tersebut di nilai mampu meningkatkan kemampuan berpikir kreatif sekaligus melatih mahasiswa memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab.

Melibatkan Ratusan Peserta dari Dalam dan Luar Negeri

Kurator pameran, Nadiyah Tunnikmah, mengungkapkan bahwa Post-Machine Algorithm di ikuti oleh sebanyak 167 peserta yang berasal dari berbagai latar belakang.

Peserta tidak hanya berasal dari kalangan mahasiswa ISI Yogyakarta, tetapi juga melibatkan dosen, alumni, serta seniman dari berbagai negara seperti Thailand, Jepang, Malaysia, dan Australia. Kehadiran peserta internasional memberikan perspektif yang lebih luas mengenai bagaimana perkembangan AI di pahami dalam praktik seni di berbagai negara.

Sementara itu, karya yang di pamerkan berasal dari berbagai program studi, meliputi seni murni, kriya, desain, konservasi, hingga tata kelola seni. Setiap karya menawarkan interpretasi yang berbeda mengenai hubungan manusia dan mesin dalam era pascadigital.

Melalui tema tersebut, pameran berusaha menunjukkan bahwa sebuah karya seni tidak hanya di nilai dari hasil akhirnya, tetapi juga dari proses kreatif yang melibatkan pengalaman hidup, memori, intuisi, serta nilai-nilai kemanusiaan yang hingga kini belum mampu sepenuhnya di replikasi oleh teknologi.

Pameran Terbuka untuk Umum hingga Akhir Juni

Pameran Post-Machine Algorithm berlangsung hingga 26 Juni 2026 dan dapat di kunjungi masyarakat tanpa di kenakan biaya masuk. Kesempatan ini memberikan ruang bagi publik untuk melihat secara langsung berbagai eksplorasi seni kontemporer yang mengangkat isu perkembangan AI.

Salah seorang pengunjung, Jaya, mengaku tertarik menghadiri pameran setelah mendapat informasi dari rekannya yang merupakan alumni ISI Yogyakarta. Ia menilai karya-karya yang dipamerkan memiliki konsep yang beragam, mulai dari desain produk, lukisan. Hingga karya kriya dengan pendekatan yang unik.

Menurutnya, tema mengenai AI menjadi daya tarik tersendiri karena berkaitan langsung dengan perkembangan teknologi yang saat ini semakin dekat dengan kehidupan masyarakat.

Melalui penyelenggaraan pameran internasional ini, ISI Yogyakarta tidak hanya menghadirkan ruang apresiasi seni. Tetapi juga memperkuat diskusi mengenai posisi manusia di tengah kemajuan teknologi. Pesan yang ingin di sampaikan cukup jelas, yakni bahwa kecerdasan buatan dapat menjadi mitra dalam proses berkarya, tetapi kreativitas, intuisi, dan nilai kemanusiaan tetap menjadi elemen yang membedakan karya manusia dari hasil kerja mesin.